Bandar Poker Terbaik - Mendengar Cerita Hot dari Teman Wanita yang Mampu Meningkatkan Gairah ku
Bandar Poker Terbaik - Mendengar Cerita Hot dari Teman Wanita yang Mampu Meningkatkan Gairah ku - Cerita ini berawal ketika windy, wanita cakep temenku di datengi adik kostnya.
– mbak, mau kubantu ? – suara Ratih terdengar saat masuk ke kamar kostku.
– Walah ya jangan repot2, ini kan cuma ngebongkar titipan orang – sahutku
– Walah ya jangan repot2, ini kan cuma ngebongkar titipan orang – sahutku
Sambil mengeluarkan macam-macam kripik dari dalam kardus-kardus besar yang baru datang.
– kubantuin makan, maksudku – sambung Ratih cekikikan.
Bandar Poker Terbaik - Sambil tersenyum aku mengeluarkan juga
pakaian yang terlipat rapi dari kardus-kardus itu juga. Ratih tidak bisa
diam melihatku mengeluarkan isi paket dari kardus. Kubiarkan sesaat
Ratih ikut mengatur memisahkan makanan kering, keripik, pakaian dan
buku-biku. Aku teringat sesuatu, tapi terlambat…
– Eih ?!? – Ratih memperhatikan tiga dvd di tangannya.
Movie porno koleksiku ketahuan!!
Ratih berdiri menghindar saat kucoba
merebut dari tangannya. Ratih malah naik ke tempat tidurku, bersandar
dan membolak balik gambar di covernya. Biarlah, kupikir Ratih juga sudah
dewasa. Baru 2 semester berjalan sekolah menengahnya, Ratih sudah
termasuk dewasa menurutku. Jika ternyata belum melihat hal2 seperti itu
.. ya berarti masih lugu dan poloslah dia.
– mbak Windy punya film begini ? pinjem ya mbak – katanya bangkit dari tempat tidurku langsung berjalan cepat ke pintu.
– hati2 menyimpannya. – seruku sambil melanjutkan unpacking isi kardusku.
– hati2 menyimpannya. – seruku sambil melanjutkan unpacking isi kardusku.
Lama juga memilah isi kardus dan
menatanya ke lemari, meja dan kulkas kecilku. Setelah semuanya rapi,
kuambil kaos longgar dan celana pendek, handuk serta perlengkapan
mandiku. Setelah mandi aku keluar kamar mandi, berjalan terus keluar
kamarku sambil mengeringkan rambutku dengan handuk. Beberapa langkah
setelah di depan kamar Ratih, kuketuk pintunya.
Dengan lilitan handuk membungkus
pinggang hingga pahanya, Ratih membukakan pintu dan langsung menarik
tanganku masuk ke dalam kamarnya. Dikuncinya pintu dan kembali memegang
tanganku, menarikku ke depan tvnya. Seperti perkiraanku, Ratih masih
melihat dvdku tadi.
Masih tertayang seorang pria kulit gelap
telanjang dan dua gadis asia setengah telanjang sedang beraksi di ruang
kantor. Pria itu berlutut di depan gadis si rambut panjang yang duduk
di kursi dengan paha terbuka lebar, kaki yang satu di atas meja.
Dengan cepat pria itu menggoyang
pantatnya maju mundur sementara si rambut panjang mencengkeram tangannya
ke atas, memegang sandaran kursi di belakang kepalanya sambil berteriak
seperti kesakitan. Branya telah terbuka menggantung di tangan kirinya.
Buah di dadanya bergoyang seirama dengan kayuhan pantat si pria.
Yang rambut pendek berusia belasan tahun
terbaring di meja, dengan rok seragam sekolahnya telah tersingkap ke
atas. Pahanya terbuka lebar, kakinya diatas meja, sementara kepala pria
itu mencium dan menjilat pangkal paha gadis itu. Tangannya pun ikut
bermain di sana.
Ratih diam saja saat kuberjalan ke
kulkasnya, membuka dan mengambil setangkai anggur. Kututup kulkas dan
memutar tubuhku menghadap tempat tidur, memperhatikan Ratih. Ia tak
berkedip melihat tv, duduk di tepi tempat tidur, kaki kirinya di atas
kaki kanannya, terlihat sedikit bergoyang. Terlihat pantatnya juga
sedikit bergoyang memutar.
Ratih hanyut dengan tontonannya. Sambil
tersenyum aku duduk di selahnya sekarang. Kuperhatikan dadanya naik
turun agak cepat. Kubiarkan Ratih menonton movie itu sampai si pria
berdiri dan menghadap meja, ke arah gadis sekolah rambut pendek itu.
Pria itu mulai menggoyang pantanya lagi maju mundur di tengah pangkal
paha yang terbuka lebar di atas meja.
Sekarang kuganti cemilanku dengan
minuman ringan dari kulkasnya. Belum habis minumanku, pria itu telah
berteriak, memegang batang kemaluannya yang mengeluarkan cairan putih
memenuhi wajah gadis itu.
Kuperhatikan Ratih, duduk tegak,
tangannya menopang tubuhnya di tempat tidur. Kakinya sedikit terbuka
pahanya. Sekarang!! Dengan cepat kuraih handuk yang melilit bawah
tubuhnya, kutarik lepas menyingkap bawah tubuhnya yang sekarang terlihat
jelas. Ratih tidak mengenakan apa2. Ia terkejut.
– Eih!! mbak Windy!!
Tangannya bergerak menutup pangkal pahanya. Saat akan berdiri, kutahan tangannya, sambil terseyum aku berkata
– jangan ributlah, toh punya kita sama. – suaraku menenangkannya.
Ratih mulai tersenym dan kembali duduk tenang.
– tapi punyaku bulunya jarang mbak, masih halus. – tangannya membelah menyisir rambut bawahnya perlahan.
– kalau punyaku sudah banyak keluar, tapi sering kucukur. enak kalau mulai tumbuh lagi, geli2 gimana gitu.
– kalau punyaku sudah banyak keluar, tapi sering kucukur. enak kalau mulai tumbuh lagi, geli2 gimana gitu.
Aku berdiri sekarang menghadap Ratih.
Dengan santai kuturunkan sedikit calana pendekku, terlihat jelas Ratih
memperhatikan milikku. Lalu ia membandingkannya sebentar dengan
miliknya.
– ah mbak Windy sudah dewasa, dada mbak sudah bagus bentuknya.
– kalau dadaku cuma segini – Ratih kemudian mengangkat baju atasnya, terlihat bra cup nya yang agak kedodoran.
– kalau dadaku cuma segini – Ratih kemudian mengangkat baju atasnya, terlihat bra cup nya yang agak kedodoran.
Kutarik ke atas kaosku, kulepaskan
sekarang lewat kepala. Setelah meletakkan kaosku di atas tempat tidur,
kupegang bagian bawah kedua buah dadaku, sedikit kuremas dan sedikit
kuangkat ke atas, sedang kucoba kutontonkan pada Ratih.
– punya mbak Windy bagus. mungkin paling bagus diantara anak2 kist sini. – katanya pelan.
– besar, maksudmu ? – jawabku tertawa geli
– besar, maksudmu ? – jawabku tertawa geli
lalu kuputar bagian belakangku menghadap cermin, menurunkan lebih ke bawah celana pendekku.
– semoga pantatku juga indah ya – komentarku
– padat mbak, apa yang itu disebut bahenol ? – tanya Ratih
– hihihi – tak tahan ku tertawa geli dengan komntarnya. senang juga mendengarnya.
– padat mbak, apa yang itu disebut bahenol ? – tanya Ratih
– hihihi – tak tahan ku tertawa geli dengan komntarnya. senang juga mendengarnya.
Aku menungging sekarang, memperlihatkan
dengan jelas kedua lubangnya di cermin. Ratih duduk bergeser, ikut
memperhatikan apa yang tampak di cermin. Kutarik celanaku ke atas
sekarang, lalu kududuk lagi disebelahnya.
– punyamu sudah basah ? – tanyaku
– apanya mbak ?
– ya yang di bawah pusarmu, terasa basah gak ?
– enggak tau – jawab Ratih.
– apanya mbak ?
– ya yang di bawah pusarmu, terasa basah gak ?
– enggak tau – jawab Ratih.
Ia kini bergerak mundur sedikit di
tempat tidur. Lututnya diangkat ke atas, kedua kakinya di atas dipan
sekarang, pahanya dibuka lebar-lebar, mempertontonkan pangkal pahanya.
Kedua tangannya membantu membukanya hingga kini terkuak. Kulit dalamnya
yang merah muda sekarang terlihat jelas, agak berlendir.
– sudah pingin pipis ? – tanyaku lagi.
– tadi pingin sih, tapi bukan pingin pipis rasanya. enggak tau gimana gitu – jelas Ratih.
– tapi sudah basah kan ?
– tadi pingin sih, tapi bukan pingin pipis rasanya. enggak tau gimana gitu – jelas Ratih.
– tapi sudah basah kan ?
Kuambil handuk dan mengusap pangkal pahanya. Ratih diam saja. Kupijit perlahan sekarang.
– sudah mencoba memasukan ke lubangnya ? – tanyaku lagi perlahan
– apaan ? apa maksud mbak Windy ?- tanyanya
– mungkin jarimu kau masukan ?
– tadi memang pingin memegangnya, terasa enak terus keterusan memegangnya. – jelasnya
– makanya kulepaskan celanaku biar enak mengusapnya – jelasnya lagi.
– apaan ? apa maksud mbak Windy ?- tanyanya
– mungkin jarimu kau masukan ?
– tadi memang pingin memegangnya, terasa enak terus keterusan memegangnya. – jelasnya
– makanya kulepaskan celanaku biar enak mengusapnya – jelasnya lagi.
Terlihat pantat Ratih mulai sedikit bergoyang goyang. Aku tidak menghentikan usapan dan pijitanku.
– enak diusap ? – tanyaku lagi.
– tadinya sih – jelas Ratih.
– kalau sekarang ?
– tadinya sih – jelas Ratih.
– kalau sekarang ?
Ratih diam, mencoba menikmati usapanku
di bawah perutnya. Kugeser dudukku sekarang, mendekat. kubelai
rambutnya, kusisir perlahan. sesekali kuusap juga telinganya. Ratih
diam, menatapku.
Sekarang tanganku tanpa handuk membelai
pangkal paha Ratih, bagian sensitif wanitanya, perlahan naik turun,
sesekali membuka lipatannya menyentuh tonjolan kecil di dalamnya. Ratih
memjamkan mata. nafasnya mulai terdengar jelas berirama agak cepat.
Kakinya kubuka lebar2, dengan tangan kiriku kupercepat usapan di pangkal
paha Ratih.
– hsss … mbaaak – Ratih mendesis, merebahkan tubuhnya di tempat tidur sekarang.
Kugerakkan tangan kananku ke arah
dadanya sekarang. Perlahan kuangkat cup penutup buah di dadanya.
kuusap-usap ujung kecil di buah dadanya.
– hmmm … hssss – Ratih bersuara tak jelas
Tangannya memegang tanganku yang di
dadanya. Hanya memegang. Aku sekarang meremas buah di dada Ratih yang
masih ranum itu. Tangan kiriku kupercepat mengusap pangkal pahanya.
Ratih mulai melepaskan nafasnya pendek berirama cepat sambil bersuara
– haah!! haah!! haah!!
Kupercepat tangan kiriku mengusap daging
kecil di celah2 pengkal paha Ratih. Perlahan jari tengahku mengusap
sekeliling lubang kecil di bawahnya. Sesekali mencoba masuk
– mbaak!! Haah!! Haah!! mbak Windyyy!! haah!!
Dengan ibu jari tangan kiriku aku kini
mengusap daging kecilnya, sementara jari tengahku mencoba masuk ke
lubang bawahnya. semakin cepat gerakanku, Ratih kini bergoyang
pantatnya. Terus bergoyang mengikuti iramaku.
Telah masuk setengah jari tengahku di
dalam pangkal paha Ratih. Mulai basah jariku itu, tapi tetap tertahan
tak bisa masuk lebih jauh. Dengan jangkauan sedikit masuk ke dalam
itulah aku menggerakkannya keluar masuk. Semakin cepat, cepat, lebih
cepat, kutambah kecepatannya …
– mbaaaak Windyyyyy !! – Ratih menyebut namaku dengan menjerit kecil
Tubuhnya bergetar. Bukan bergoyang
seperti tadi, tapi bergetar, mengejang, otot pangkal pahanya menegang,
tangan keduanya menangkap tanganku yang bergerak cepat di bagian bawah
tubuhnya. Kemudian diam tak bergerak, kecuali nafasnya naik turun
seperti berlari kecil. Tanganku sudah diam sekarang.
– basah ya ? aku ngompol ya ? tadi seperti pipis rasanya …
Kuambil handukku tadi, kuusap lagi ke bagian penting Ratih itu.
– enak Ratih?!?
– hmmm … gimana ya rasanya … – jawabnya masih telentang.
– punyaku juga sedikit basah lho
– hmmm … gimana ya rasanya … – jawabnya masih telentang.
– punyaku juga sedikit basah lho
Ratih bangkit, duduk sekarang. menatapku lalu memperhatikan bawah pusarku.
– terus aku musti gimana ? – tanyanya
– coba kau ganti dan putar film dvdku. yang India ya ?
– coba kau ganti dan putar film dvdku. yang India ya ?
Aku beranjak dari tempat tidur ke meja
rias Ratih. Ratih dengan cepat mengganti dvd dengan film yang kumaksud.
Kuraih sisir sikat Ratih yang dari karet lunak, kududuk lagi di dipan.
kuraih remote dvd, dan kupilih scene yang paling tengah.
Langsung tampil seorang pemuda keturunan
India yang telah telanjang bulat, mengikat wanita berdarah India juga
yang kini telanjang bagian bawah tubuhnya. Wanita berambut pendek
seperti lelaki itu menangis di tepi tempat tidur, kedua tangannya
terikat di satu sudut atas tempat tidur.
Kugesekkan pangkal sisir sikat Ratih
pada pangkal pahaku berulang ulang. Ratih yang memperhatikan kegiatanku
juga mulai duduk sambil sesekali melihat film itu. Aku ikut merasakan
nikmatku saat pemuda itu memasukan tongkat kehidupan di bawah pusarnya
dengan paksa ke gadis yang terikat itu.
Bersaamaan itu juga masuklah pangkal
pegangan sisir sikat Ratih ke dalam lubang bawahku. Terasa sesak
lubangku dipenuhi pangkal sisir itu yang semakin masuk, semakin lebar
pangkal sisir itu.
– AArhhhhh!! – aku merasakan nikmat saat kutarik dan kumasukan lagi berulang-ulang
Ratih di sebelahku mulai mengusap bawah
perutnya juga, mengikuti iramaku. Ratih duduk terbuka lebar lagi sambil
memperhatikanku dan tv bergantian. Nikmat yang kurasakan menambah
sensasi kami berdua saat wanita di tv mulai berteriak2 menangis
menjerit-jerit. Sisir itu telah cepat keluar masuk membantuku mencapai
nikmat yang kucari. Ratih mulai mengerakkan jemarinya ikut2 memasuki
lubangnya sendiri.
Tambah cepat nafasku saat melihat Ratih
mulai bergoyang menikmati usahanya. Wanita di tv terlihat megejang,
sementara pemuda itu menghentikan kegiatannya tuk berganti posisi,
menduduki paha wanita itu dan mencoba memasuki lubangnya dengan pusaka
miliknya.
– haaah!! mbaaak!! – Ratih merintih, saat tanganku ikut meremas dadanya.
Aku bergerak cepat, menggeser dudukku mendekati Ratih.
– haah!! bantuin Ratih!! haah – seruku
Kudekati tangan Ratih yang menyangga
tubuhnya, kuraih dan kuarahkan ke sisirnya sendiri yang keluar masuk di
lubang kenikmatanku. Ratih yang sekarang ikut memegang sisir itu, melai
mengikuti irama tanganku.
– haah!! haah!! yang cepat!!
Sekarang kubiarkan Ratih sendiri yang
melakukannya. Kubuka pangkal pahaku lebar2 menghadapnya, kuangkat
sedikit lubangku, kini Ratih mulai mempercepat tusukannya.
– HAAAAHHH!! – suaraku keluar saat tanganku bergerak,
mengusap dan menekan daging kecil di
dalam lipatan bawah tubuhku. Ratih tetap menusukku dengan irama yang
kurasa bertambah lama bertambah cepat. Nikmat dan sensasi yang luar
biasa, terbawa suara di tv yang nyaring.
Benar2 terasa penuh lubangku saat Ratih
membenamkannya, dan terasa nikmat sensasinya saat Ratih menarik dan
membenamkannya lagi dengan cepat. Tak kuasa aku menahan getaran dan
kejangnya otot di seluruh tubuhku saat puncak nikmat yang kucoba raih
itu datang …
– AAAAAAAAAAAARRRRGGGHHHH !!!!
Betul2 serasa mengeluarkan kepuasan yang
tiada tara melalui bawah tubuhku … Kubiarkan Ratih menusuk lubangku
beberapa kali, lalu kutahan dengan kedua tangannku mencoba
menghentikannya. Tangan Ratih yang satu masih menusukkan jemarinya ke
lubang miliknya dengan cepat sekali. Ia terlihat ingin juga menikmati
puncak permainannya. Tak beberapa lama sebelum sempat kubantu …
– hah!! hah!! HAHH!! HHAAAA!! HAAARRGHHH!!! MBAAAAAAAAKKKK!!!
tubuhnya menegang, bergetar sesaat,
perutnya naik turun cepat, kemudian merangkulku. Kami berbaring
sekaarang, aku tertindih tubuhnya yang penuh keringat. Masih merangkulku
dan menyandarkan kepalanya, terdiam tak bergerak. Bebearpa saat
kemudian Ratih sesenggukan menangis …
– huhuuu – berbisik ia dalam tangisnya
– aku sudah tidak perawan lagi ya? Huuu huuu … –
– aku sudah tidak perawan lagi ya? Huuu huuu … –
Kuangkat tanganya yang dipakainya sendiri, kuperhatikan ada lendir membasahinya dan sedikit merah …
– entahlah Ratih, aku tidak yakin itu
darahmu, tetapi tenang sajalah, kau sudah memdapat apa yang kau cari
tadi – bisiku perlahan …
Setelah beberapa lama kami berpelukan,
aku mulai meninggalkannya di tempat tidur, merapikan celanaku dan
mengenakan kaosku. Kuambil handukku, dan bergerak keluar kamarnya, masuk
lagi ke kamarku tuk mandi lagi.
—–
– Begitu deh mas cerita nya – berbisik Windy perlahan
– Lu gila ya Windy, cerita detail begitu ke gue ? – tanyaku perlahan sambil tersenyum.
– Lah, kan mas sendiri yang ingin dengar cerita nya.
– Lu gila ya Windy, cerita detail begitu ke gue ? – tanyaku perlahan sambil tersenyum.
– Lah, kan mas sendiri yang ingin dengar cerita nya.
– Iya, tapi aku sekarang kan bingung mau
ke mana. Pelabuhanku sekarang sedang ke Manado, yang lain di Singapore
dengan bossnya. Yang lain sedang terbang dengan flight maskapainya.
Kemana kapal selamku musti berlabuh? Ah dasar kau sukanya bikin pusing –
kutatap matanya.
Kusandarkan badanku ke kursi, kutarik
kedua tanganku menopang kepalaku. Windy menggeser kursinya, dari
hadapanku tadi, sekarang kursi yang beroda itu telah berada di
sebelahku. Sambil mendekatkan wajahnya ia tersenyum sambil berbicara
perlahan :
– asyik kan cerita nya ?
– Untung gak ada yang dengar cerita mu tadi. – kataku sambil memperhatikan kiri kanan.
– Hari Sabtu begini, kantor ini biasanya sepi mas. Jarang ada yang lembur sampai sore begini.
– Kalau bukan karena menemani mas membackup data akuntasi perusahaan ini tiap hari Sabtu, aku juga gak bakal ke sini mas.
– Untung gak ada yang dengar cerita mu tadi. – kataku sambil memperhatikan kiri kanan.
– Hari Sabtu begini, kantor ini biasanya sepi mas. Jarang ada yang lembur sampai sore begini.
– Kalau bukan karena menemani mas membackup data akuntasi perusahaan ini tiap hari Sabtu, aku juga gak bakal ke sini mas.
– Lah, bukannya tiap minggu kamu ke sini ngeberesin pembukuan ?
– hiyo hiyo. terserah deh mas. tapi sekarang pokoknya sepi. tenang aja. office boy kan sekarang doyan maen facebook mas.
– mas aja yang freelance di sini tidak memperhatikan. mas cuma hari2 tertentu sih datang ke kantor kami.
– hiyo hiyo. terserah deh mas. tapi sekarang pokoknya sepi. tenang aja. office boy kan sekarang doyan maen facebook mas.
– mas aja yang freelance di sini tidak memperhatikan. mas cuma hari2 tertentu sih datang ke kantor kami.
Kulirik Windy sekarang. Ia masih
memajukan tubuhnya ke arahku. Terlihat bibir merah mudanya yang basah,
kemeja atasnya yang ketat sekarang memperlihatkan belahan dadanya yang
indah. Matanya menatapku tak berkedip. Windy memperhatikan mataku
melirik dadanya, turun ke paha seakan menelanjangi tubuhnya.
Kuturunkan tanganku sekarang, dengan
jarak dekat begini kuraih rambut di atas telinganya. Kusisir pelahan
kebelakng. Windy bergerak mendekat, meletakakan tangannya dipahaku.
Segera kutarik kepala Windy, kucium bibirnya, kuhisap dalam2, lidahku
juga mencoba melumat rongga mulutnya. Kuhentikan ciumanku, terlihat mata
Windy terpejam dan sedikit terbuka mulutnya.
– Di mana ruang meetingmu ? – kubertanya sambil mengajak Windy berdiri, menarik tangannya.
Windy berjalan cepat ke arah ujung
ruangan yang luas ini. Kulewati lorong kerja disekitar meja kerja
karyawan kantor ini. Di salah satu meja yang komputernya menyala
terlihat pemuda yang sedang mengetik di keyboard, berinteraksi dengan
monitornya yang menampilkan facebook. Office boy sedang sibuk sendirian
sekarang.
Pintu paling ujung telah terbuka, dan
Windy menahannya menungguku masuk. Setelah melewatinya, terdengar pintu
tertutup perlahan dan kudengar suara kunci diputar. Sekarang ku berdiri
menghadap meja besar di ruangan kecil ini. Terlihat Windy bergerak cepat
menutup gorden jendela di dua sisi ruangan ini. Meskipun siang, terasa
remang cahaya yang masuk sekarang.
Windy berjalan ke arahku, memutari meja
sekarang. Tangannya bergerak melepaskan kancing baju atasnya. Sesampai
di depanku Windy hanya mengenakan bra, memperlihatkan buah di dadanya
yang besar dan indah tertopang bra gelapnya. Ia kini duduk di atas meja
menghadapku.
tangannya kebelakang sesaat, kemudian
terlihat rok bawahnya mulai longgar pinggangnya. Sambil mendekat, kubuka
resleting celanaku jeansku. Kuraih kedua tangannya dan kutarik
menyuruhnya turun meja. Rok bawahnya sekarang terlepas saat Windy
berdiri menghadapku.
Kuraih kursi dan kuajak dia berlutu
sementara aku duduk di kursi itu. Kuhadapkan kursi ke arahnya,
kuperlebar ruang resletingku dengan menarik sampai ujung bawah, lalu
kuturunkan celana dalamku. Kuraih pusakaku yang setengah berdenyut itu.
Batang pusakaku kini telah menjulang keluar diantara delah resleting.
– hmmm – Suara Windy terdengar, saat meraihnya.
Geli dan nikmat langsung mengalir dalam
aliran darahku saat Windy mulai memasukan dalam mulutnya. Kepalanya
mulai maju mundur, dan tangannya mulai melepaskan kaitan ikat
pinggangku. Dibukanya kancing atasnya dan kini dengan sedikit membungkuk
Windy sekarang telah menaik turunkan kepalanya, menelan ujung pusakaku
sampai terasa sangat geli sekarang. Kusandarkan tubuhku, dan kuraih
kepala Windy.
– oowwhh – tambah geli aku sekarang, saat mulutnya menjepit pusakaku sambil naik turun.
Kubiarkan ia memijit pangkalnya
sekarang. Perlahan ia mulai mengurutnya ke atas dan menekannya ke bawah.
Lalu bertambah cepat. Dan sekarang lebih cepat lagi. Sungguh nikmat
yang terkira di gedung ini kurasakan.
– iihh – aku terkejut
Rasa sensasi nikmatku bertambah saat
Windy menhisapnya. Terasa beberapa detik cepat berlalu, berlomba dengan
gerakan Windy. Segera kulepas kekangan yang kutahan semenjak mendengar
cerita Windy dari tadi. Ujung nikmatku telah sampai.
Kubenamkan kepala Windy ke pangkuanku,
tak kulepas saat kusemburkan energi di bawah pusarku. Windy memejamkan
mata saat menghisap semua energiku, menelannya dan menyapu sisanya
dengan lidahnya. Bukan main … ada kenangan baru aku di hari Sabtu ini.
– enak mas ? – Tanya Windy sambil mengusap mulutnya
– sebentar ya. – Windy berdiri, ke arah lemari kecil.
– sebentar ya. – Windy berdiri, ke arah lemari kecil.
Dituangnya air di gelas dan meminumnya
satu dua teguk. Kemudian disodorkan ke arahku. Kusambut. Kuraih
pergelangan tangannya yang memegang gelas. Aku berdiri dan memutar
tubuhku sambil menarik Windy untuk duduk di kursiku tadi.
Windy meletakkan gelasnya di meja, dan
langsung memegang kepalaku yang sudah menyeruduk masuk ke pangkal
pahanya. Celana dalam hitamnya telah kutekan dengan wajahku menusukan
hidungku ketengah tengahnya. Tercium wangi kainnya. Kugosok gosokkan
mukaku ke situ. Berputar putar, naik turun, kiri kanan.
– huaaahh … massss
Perlahan tanganku ke pinggulnya, menarik
ke bawah kain celaan dalamnya. kuturnkan sampai matakaki. Windy
menggerakan sendiri kakinya hingga terlepas kain itu. Saat kuangkat
kepalaku menatapnya, terlihat buah di dada Windy mulai menarik
keinginanku meremasnya. Kubuka bra hitamnya. Kuremas2 keduanya. Windy
mendesah.
Kuputar kursinya, Windy sekarang
kurangkul dari belakang di tempat duduknya. Kuremas sekali lagi dadanya.
Kupijat dan kuremas hingga keujungnya. Windy mengangkat kepalanya ke
atas.
– haaahhhhsssss maassss
Kutarik kuajak berdiri dia sekarang.
Kuangkat satu kakinya dan kunaikkan ke kursi. Kuremas pahanya. Kuremas
atasnya sedikit. Perlahan remasanku naik, hingga ke paha bagian dalam di
pangkalnya. windy menggigil
Perlahan remasan dan pijitanku sudah
sampai ke pangkal pahanya. sudah sampai ke belahan bawah pusarnya.
Kupermainkan daging kecil itu. Ia melenguh mengeluarkan udara lewat
mulutnya.
Windy menarik tanganku. Ia beringsut
sedikit ke meja, lalu duduk di meja menghadapku. Agak bergeser sedikit,
ia sekarang mengangkat kedua kakinya di meja lebar itu. Windy melebarkan
pahanya ke arahku. Terlihat rapi sisiran bulu bawahnya menutupi lipatan
bagian vitalnya.
Windy merebhakan dirinya ke meja sambil
bergerak menanti gerakanku selanjutnya. Segera saja kutarik kursi duduk,
menghadap meja, memeluk kedua pahanya dan membenamkan mukaku kebelahan
tengah tubuh bawah Windy …
– shayyhhaaanggg !!! hooooohhhhh!!! – serunya berulang ulang beberpa lama
Windy bergetar, saat kumulai menjiat bagian2 penting di area lubang itu.
– huuooh!! hah!! ssshhhh hhaah !!!
Windy terus mengeluarkan suara saat kujilat dengan lidahku yang bergerak cepat di situ.
Kuturnkan tanganku dan mulai mengurut pusakaku yang mulai setengah tegang lagi itu.
Kuturnkan tanganku dan mulai mengurut pusakaku yang mulai setengah tegang lagi itu.
– haah!! mass!! saa … yaaang!!
Windy berceloteh tak jelas …
Lidahku lebih cepat bergerak sekarang.
Lidahku lebih cepat bergerak sekarang.
– yes mas !! huuuuh !!!
Kuhentikan jilatanku, aku berdiri sekarang.
– hhmmmm … mmmm … – Windy mengerang,
badannya bergoyang, menyodorkan lubang
miliknya ke arahku. matanya terpejam, kedua tangannya meremas sendiri
kedua buah dadanya. Kutempelkan ujung pusakaku langsung di pintu masuk
lubang Windy.
– hooh yes mas … sekarang sayang …
Kumasukkan kepala pusakaku ke lubang
berlendir itu. kutarik lepas dan segera kumasukkan lagi kepalanya.
berulang ulang dengan irama yang semakin cepat.
– hah!! hah!! haahhh!! – nafas Windy memburu gerakanku
beberapa saat kemudian, kumasukkan semua pusakaku, kubenamkan semua ke dalam lubang Windy.
– aaauuwwooooooooohh – mulut Windy makin bersuara memikat
Akhirnya kusaat kubenamkan dalam2 itulah
aku segera melakukan getaran sedikit menarik dan dengan penuh
memasukkannya. Kjulakukan sangat cepat iramanya, secepat gerakan drill
bor yang sangat cepat itu.
– HAUW HAUW HAUW HAUW …. – suara Windy terdengar ikut bergetar cepar
Kutambah getaranku dan kupercepat.
Segera saja Windy bergetar, menggelijang, menegang otot perut dan
pahanya, mulutnya terbuka tak bersuara … kemudian tangannya mengangkat
pahanya, ikut2 bergetar sesaat lagi … Kuhentikan kegiatanku, kubiarkan
Windy meresapi nikmatnya di atas meja meetingnya. Kulepaskan pusakaku,
dan kuremas2 tuk menjaga tetap tegang.
Kemuian kutarik kakinya turn meja,
kuraih tangannya mengajak berdiri. kuputar badannya dan kuarahkan
menungging, tangannya memegang pinggir meja. Kuarahkan pusakaku dan
mulai kudororong memasuki lubang Windy sekali lagi. Windy mendesah
sekali lagi. sampai ia berjinjit berdirinya, menopang tubuhnya dengan
jari kakinya.
Kuteruskan kegiatanku menghujam lubang
milik Windy dengan pusakaku, dengan sebentar sebentar berganti posisi.
Dari menungging di pinggir meja, berpindah ke kursi, kemudian menungging
di karpet. Hingga akhirnya Windy teelentang di karpet dengan kaki
berlipat di atas tubuhnya, menahan tubuhku di atasnya yang naik turun
secara cepat menindih Windy. Di posisi demikian aku merasakan kenikmatan
memenuhi lubnag Windy dengan pusakaku, mengoyaknya, memutar dan
bergetar cepat menekan pangkal pahanya.
Hingga akhirnya kucapai lagi ujung
kenikmatan yang memuaskanku sekali lagi. Lelah aku telentang di karpet
ruang meeting itu tuk beberapa saat. Sampai kuingatkan Windy tuk
memperhatikan cahaya luar gedung yang telah mulai gelap, senja mulai
tiba. Waktunya tuk meninggalkan gedung ini.
– makan malam di kostku aja ya mas …. – tangannya masih memeluk erat salah satu tanganku.
– lah emang kau masak apa ? seharian kita di kantormu begini – candaku di dalam lift.
– kita di Tebet mampir ke McD lalu kita makan di kakamarku.
– Ok, aku ke pos satpam dulu nitip motorku tuk parkir lama ya.
– lah emang kau masak apa ? seharian kita di kantormu begini – candaku di dalam lift.
– kita di Tebet mampir ke McD lalu kita makan di kakamarku.
– Ok, aku ke pos satpam dulu nitip motorku tuk parkir lama ya.
Sesampai di kamar Windy di kostnya,
bukannya makan pesanan makanan yang kami bawa, Windy sudah berinisiatif
melucuti pakaianku, berusaha membangkitkan garirahku dan kita bergumul
di ranjangnya. Setelah aku dan Windy terlentang menikmati puncak
kepuasan yang tercapai, rasa lapar kami datang lagi. Sambil makan, Windy
menawariku menginap.
– ini kunci cadangan kamarku. – Windy menyodorkan anak kunci.
– besok malam mas masuk sini aja duluan kalau aku belum nyampai.
– besok malam mas masuk sini aja duluan kalau aku belum nyampai.
Lah, ini pemaksaan secara halus,
pikirku. Kuterima kuncinya, dan menyalakan tv menyaksikan film lepas
yang tayang malem itu. Setelah film selesai, Windy menggantinya dengan
salah satu dvd nya. Dari covernya aku sudah bisa menebak, film apa yang
bakal kulihat sekarang.
Ditengah film panas Windy itu terlihat
Windy melepaskan lagi dasternya kemudian menciumi perutku dan bawah
pusarku. Melepaskan celanaku dan mengulum lagi pusakaku. Akhirnya
dibantu film dan usaha Windy itulah aku bisa mulai menyambut ajakan
Windy lagi.
Terasa Windy seperti ketagihan dengan
apa yang diperolehnya malam Minggu ini. Ia selalu menginginkanku
memuaskannya, meskipun aku kelelahan. Kubantu Windy mencapai ujung
pencapaiannya hingga terasa sampai energiku habis kuekspose malam itu.
Ditengah lelapnya tidurku, jam alarm
Windy membangunkam kami di siang hari, segera aku bergerak hendak mandi.
Belum sampai aku berdiri dari tempat tidur, Windy sudah merangkulku
dari belakang dan tangannya turun ke arah bawah pusarku. Fenomena pagi
kaum laki2 inilah yang ternyata di tunggu Windy.
Pusakaku memang sedang tegang dan
kencang sekali saat bangun pagi ini. Ini juga yang selanjutnya membuat
Windy merintih dan mengerang dalam usahanya mencapai kepuasannya. Windy
duduk di bawah pusarku sambil menggesekan pangkal pahanya maju mundur,
mememuhi lubangnya dengan pusakaku. Dan Windy berulang-ulang memulainya
lagi meskipun ia telah mencapainya berulang ulang.
Di pagi ini juga aku bisa memberitahu
Windy melalui kemampuanku, jika aku bisa membantunya mencapai kenikmatan
dan puncaknya berkali-kali sebanyak yang dia mau. Aliran darahku sedang
lancar, konsentrasiku masih segar, nafasku dapat kuatur menjaga
jantungku memompa tekakan darahku menstabilkannya. Selalu kupercepat
gerakanku tuk menggetarkan lubang di bawah tubuh Windy, yang membuatnya
senang menggelinjang mencapai kenikmatannya.
Hingga akhirnya Windy menyudahi
ketagihannya, mencapai klimaks terakhinya saat di kamar mandi. Di depan
tubuh Windy yang duduk di toilet itulah aku mengakhirinya. Kuhujamkan
dengan cepat getaran pusakaku di pangkal pahanya yang terbuka lebar itu.
Semprotan air hangat di shower yang
kuarahkan ke bawah pusarnya membuatnya berteriak menggigil, bergoyang
tubuhnya menggelepar, bergetar otot pahanya, tangannya dengan keras
meremas pantatku. Kuakhiri juga nikmatku, mencapai kepuasanku dengan
menyemburkan cairan energiku dalam lubang istimewa milik Windy yang
terengah-engah. Sudah berapa bulan aku melewatkan kesempatan seperti ini
sejak betemu dan berkenalan dengannya? Kalau saja aku lebih sadar
melihat peluang dan kesempatan.
Entahlah, tapi aku punya semangat hidup yang lebih tinggi lagi sekarang.
Posted By : www.tugupoker.net


Comments
Post a Comment