Agen Poker Terbaik - Kencan dengan Karyawati di Perusahaanku yang Sudah Tidak Perawan
Agen Poker Terbaik - Kencan dengan Karyawati di Perusahaanku yang Sudah Tidak Perawan - Kejadian ini saat aku belum menikah dan masih bekerja di perusahaan
distribusi makanan. Aku saat itu menjadi CEO dan salah seorang stafku
yang baru bekerja 4 bulan namanya Inge, dia seorang sarjana ekonomi yang
baru setahun lulusnya umurnya masih 23 tahun.
Agen Poker Terbaik - Dulu saat pertama kali masuk kantor
kulihat sering diantar dan dijemput pakai motor oleh pacarnya, tetapi
sudah ada seminggu terakhir Inge selalu mengendarai motor sendiri.
Memang Inge berwajah manis, hanya sayang kurang tinggi sedikit.
Yang menarik buat lelaki semacam saya
adalah bibirnya yang selalu kelihatan basah terus karena lidahnya sering
dipakai membasahi bibirnya dan selain itu model rambutnya yang pakai
gaya sedikit yang terurai di dekat telinga dan diberi jelly hingga
kelihatan basah.
Juga yang kelihatan sensual adalah cara
berpakaiannya karena Inge selalu pakai baju atau kaos yang agak ketat
sehingga perutnya kelihatan ramping dan kedua gunung kembarnya terlihat
agak menonjol. Memang payudaranya sendiri tak terlalu besar tetapi cukup
bagus bila pakai baju atau kaos yang ketat.
Suatu saat aku tegur dia,
“Inge, kenapa sekarang kamu naik motor sendiri?”
“Yaaaahh, yang antarin sudah nggak ada”, sahutnya.
“Masak iya, kemana pacarmu itu?” tanyaku.
“Aach, nggak tahu pergi kemana dia, biarin saja”, jawabnya dengan nada kesal.
“Yaaaahh, yang antarin sudah nggak ada”, sahutnya.
“Masak iya, kemana pacarmu itu?” tanyaku.
“Aach, nggak tahu pergi kemana dia, biarin saja”, jawabnya dengan nada kesal.
Beberapa hari kemudian, saat makan
siang, aku lewat depan kamarnya, kebetulan cuma Inge seorang diri dan
sedang makan, rupanya yang lain makan di luar, segera kumasuk dan duduk
di depan mejanya.
“Makan sendirian aja?”
“Iya Pak, sahutnya. Sambil makan, Inge melihat-lihat iklan bioskop di koran. Tiba-tiba Inge berbicara,
“Waaaahhh, film Mandarin ini bagus Pak, Inge kepingin nonton tapi nggak ada teman sekarang.”
“Iya Pak, sahutnya. Sambil makan, Inge melihat-lihat iklan bioskop di koran. Tiba-tiba Inge berbicara,
“Waaaahhh, film Mandarin ini bagus Pak, Inge kepingin nonton tapi nggak ada teman sekarang.”
“Kalau memang nggak ada teman nanti saya temani” kataku.
“Ah, Bapak bisa saja, nanti pacar Bapak marah lho!” sahutnya.
“Yaa, jangan sampai ketahuan dong, sekali-kali kan nggak apa-apa”, kataku.
“Ah, Bapak bisa saja, nanti pacar Bapak marah lho!” sahutnya.
“Yaa, jangan sampai ketahuan dong, sekali-kali kan nggak apa-apa”, kataku.
“Kalau sungguh, kapan Bapak bisanya?
asal jangan yang malam-malam, paling lambat yang pukul 7.00 malam”,
jelas Inge. “Besok malam? Pokoknya jangan Sabtu dan Minggu malam itu
acara Bapak sudah patent” kataku.
“Kalau gitu besok malam ya Pak?”
“Boleh, Bapak jemput jam berapa?”
“Inge sampai kost jam 5 sore, lalu mandi dulu, jadi kira-kira pukul 6 sore ya!”
“Oke”, sahutku.
“Boleh, Bapak jemput jam berapa?”
“Inge sampai kost jam 5 sore, lalu mandi dulu, jadi kira-kira pukul 6 sore ya!”
“Oke”, sahutku.
Besok sorenya setelah saya pulang ke
kost dan mandi lalu siap kencan ke kostnya Inge. Sampai di sana ternyata
Inge belum selesai hingga kutunggu beberapa menit, kemudian kita
langsung berangkat kencan. Karena baru pukul 6.10 padahal filmnya mulai
pukul 19:00, maka kita putar-putar kota dulu. Dalam mobil aku bilang
dengan Inge kalau lagi nggak dinas begini jangan panggil aku Pak, sebab
umur kami paling hanya berbeda 7 tahun, aku jadi nggak enak dong.
Akhirnya setelah putar-putar kita
langsung kencan ke bioskop dan beli tiket lalu masuk, aku memang sengaja
minta tempat duduk yang di pinggir. Rupanya filmya kurang bagus, sebab
sampai saat mulai penontonnya hanya sedikit.
Memang artis-artis yang main
seksi-seksi, apalagi film Mandarin terhitung banyak yang berani juga
actionnya. Kalau pas adegan yang hot Inge tiba-tiba memegang tanganku,
suatu saat kalau adegan panas sebelum tangannya Inge yang beraksi
kupegang dulu telapak tangannya erat-erat.
Walaupun adegan panas sudah berlalu
tangannya tetap kupegang terus dan perlahan-lahan tangannya kuletakkan
di atas pahanya. Ketika Inge masih diam saja atas aksi ini, maka
jari-jariku kupakai untuk mengutik-utik pahanya yang sudah terbuka
karena roknya yang agak pendek itu naik kalau buat duduk. Beberapa menit
hal itu kulakukan dan Inge pun masih diam, lalu tangannya kutarik ke
paha lebih atas sekaligus untuk menyingkap roknya supaya naik ke pangkal
paha.
Setelah kulihat roknya menyingkap sampai
hampir pangkal pahanya sehingga paha yang mulus itu terlihat
remang-remang dengan penerangan cahaya dari film saja. Aku pura-pura
diam sebentar, kebetulan ada adegan panas lagi dan tanganku segera
memegang pahanya dan tangan Inge memegang bagian atas tanganku.
Kupikir Inge akan melarang kegiatan
tanganku itu, tetapi tangannya hanya ditumpangkan saja di tanganku.
Kuberanikan lagi operasi ini, tanganku kuusapkan ke pahanya dari atas
lutut sampai ke atas dekat pangkal pahanya. Sudah ada 5 menit aku
melakukan ini bergantian paha kanan dan kiri, tapi Inge tetap diam
hingga nafasku yang mulai memburu.
Akhirnya kuberanikan tanganku untuk
mengusap pahanya sampai ke selakangannya hingga menyentuh CD-nya dan
bagian kemaluannya kugelitik dengan 2 jariku. Saat itu Inge kelihatan
mendesah sambil membetulkan duduknya. Kugelitik terus clitorisnya dengan
jari dan kadang-kadang jariku kumasukkan ke dalam lubang vaginanya,
ternyata lubangnya sudah basah juga.
Belum beberapa lama, Inge menggeliat duduknya dan bilang,
“Oom, Jangan digitukan nanti basah semua
vagina Inge juga CD-nya, sebab Inge bisa banyak keluarnya.” Lalu
tanganku kutarik dan kupindahkan ke pahanya saja.
Aku bisiki,
“Nanti lain kali saja kencan sambil santai di hotel ya?”.
Inge mengangguk dan berkata,
“Kira-kira minggu depan saja sebab kalau sering kencan pergi malam nanti nggak enak dengan tante kost”.
Setelah film selesai sambil jalan
keluar, kurangkul pundaknya dan Inge pun memegang pinggangku sambil
kepalanya disandarkan ke bahuku. Kuajak Inge makan malam sekalian sambil
ngobrol macam-macam. Aku bertanya,
“Inge, biasanya kamu diajak pacarmu santai di mana?”
“Yaah,kadang-kadang kencan di hotel P
atau kencan di Hotel NP di atas Candi kadang-kadang juga kencan di Hotel
R di bawah kalau malas jauh-jauh.” Dengan jawaban Inge itu, aku sudah
dapat mengambil kesimpulan bahwa Inge saat ini sudah bukan perawan lagi,
jadi aku berani untuk mengajaknya kencan ke hotel minggu depan.
Selesai makan kuantarkan Inge pulang,
sebelum turun mobil kupeluk dia dan dia pun membalasnya dengan merangkul
leherku kuat-kuat untuk menerima ciuman dan kecupan-kecupan pada
bibirnya dan selesai itu dengan sedikit teknik tanganku menyambar dan
memijit buah dadanya.
“Acch.. nakal ya Oom? katanya, dan
“Bye… bye….” Pada keesokan harinya saya bertemu Inge di kantor dan kita bersikap biasa-biasa saja sehingga tak ada teman yang curiga kalau kita telah pacaran semalam.
“Bye… bye….” Pada keesokan harinya saya bertemu Inge di kantor dan kita bersikap biasa-biasa saja sehingga tak ada teman yang curiga kalau kita telah pacaran semalam.
Saat kutanya kenapa sang pacar tak
mengantar lagi, Inge bilang kalau pacarnya sekarang lagi renggang
walaupun belum putus 100 % karena pacarnya yang SH itu dan bekerja
sebagai salesman electronic itu belakangan suka tersinggung tanpa sebab
yang jelas. Mungkin iri atau malu karena Inge dapat kerjaan dengan gaji
yang semetara ini lebih besar dari padanya. Suatu siang di hari Rabu
seminggu setelah kita menonton, kebetulan Inge datang ke kamarku dengan
membawa laporan-laporan yang kuharus tanda tangani. Inge bertanya,
“Pak, nanti malam Bapak ada waktu?”
“Kenapa?” tanyaku pura-pura sebab dalam hatiku saat-saat inilah yang kunantikan.
“Kalau Bapak ada waktu, Inge kepingin makan di luar tapi kok nggak ada teman”, sahutnya.
“Oke, kalau Inge yang ngajak saya bersedia. Jam 6 sore seperti minggu lalu saya datang ke kost, ya Inge?” kataku.
“Terima kasih ya Pak.”
“Kenapa?” tanyaku pura-pura sebab dalam hatiku saat-saat inilah yang kunantikan.
“Kalau Bapak ada waktu, Inge kepingin makan di luar tapi kok nggak ada teman”, sahutnya.
“Oke, kalau Inge yang ngajak saya bersedia. Jam 6 sore seperti minggu lalu saya datang ke kost, ya Inge?” kataku.
“Terima kasih ya Pak.”
Sore itu aku cepat-cepat pulang dan
segera mandi. Jam 5.30 sore aku siap berangkat kencan ke kost Inge,
karena terlalu pagi Inge belum siap dan kutunggu di ruang tamu. Baru
kira-kira 10 menit kemudian Inge keluar. Aku sempat terpesona beberapa
saat, karena Inge yang saya tahu biasanya memakai rok agak mini dengan
baju atau kaos pendek perutnya dan agak ketat.
Kali ini tampil dengan memakai gaun
panjang warna ungu dengan belahan yang agak tinggi di bagian paha
sebelah kirinya, sehingga kalau jalan pahanya yang kiri dan putih bersih
itu kelihatan dengan jelas dan bagian dalam pahanya kanan juga tampak
samar-samar.
“Ceeek…. ceekkk…. ceeekkk”, komentarku.
Inge bahkan tersenyum manis dan kemudian
memutar tubuhnya dan bagian punggungnya terbuka lebar sampai ke bawah
dengan model huruf V sampai di atas pinggulnya. Aku yakin sekali kalau
Inge pasti tidak pakai bra sekarang. Tanpa duduk, Inge langsung mengajak
berangkat. kurangkul pinggangnya, Inge jadi agak kikuk takut kalau
tante kostnya tahu.
Begitu masuk mobil kuminta untuk
mengecup dulu bibirnya yang merah merekah dan basah terus itu, sambil
punggungnya yang terbuka itu kuusap-usap dan ternyata dugaanku benar
saat dadanya kutekan erat-erat ke dadaku terasa gumpalan daging yang
kenyal dengan nama payudara tanpa terlindungi spons BH menempel di
dadaku. Denyut jantungku langsung berdetak cepat. Kemudian mobil mulai
kujalankan dan tangan Inge diletakkan di atas paha kiriku sambil
kadang-kadang memijit pahaku.
“Mau makan kemana Inge?”
“Terserah Bapak”, katanya.
“Terserah Bapak”, katanya.
Memang Inge tetap tak mau panggil aku
dengan sebutan lain, ia pilih dengan “Pak” karena takut salah ngomong
kalau di kantor nanti.
“Kalau makan sate kambing apakah Inge suka?” tanyaku.
“Mau Pak, malah sebenarnya Inge sudah lama tak pernah makan itu karena pacar Inge tak suka daging kambing”, katanya.
“Mau Pak, malah sebenarnya Inge sudah lama tak pernah makan itu karena pacar Inge tak suka daging kambing”, katanya.
Akhirnya kita ke rumah makan sate
kambing. Saat turun dari mobil dan masuk ke rumah makan sekarang ganti
Inge yang selalu merangkul pingganku. Inge duduk di sebelah kananku.
memang kuatur demikan supaya tangan kananku bisa dekat dengan paha
kirinya yang terbuka sampai ke atas untuk kuraba-raba.
Memang kali ini Inge berbeda dengan
waktu nonton film, kali ini Inge tampak ceria dan manja. Saat duduk
makan Inge duduknya merapatkan tubuhnya ke tubuhku serta tangannya
memegang pahaku. Tanganku sebelum beraksi di pahanya kupakai untuk
mengusap-usap punggungnya yang terbuka.
Untuk saat itu rumah makan masih sepi
pengunjung,jadi aku agak bebas berkarya. Setelah puas meraba punggungnya
tanganku kususupkan ke dalam roknya ke daerah pinggang dan turun di
sana tanganku meraba CD-nya.
Kemudian tanganku bergerak ke atas dan
menyusup ke bawah ketiaknya dan menuju ke samping depan sehingga ujung
jariku dapat menyentuh samping payudaranya yang benar-benar masih
kenyal. Pekerjaan tanganku berhenti saat pelayan membawa makanan ke meja
kami. Saat makan tanganku kadang mulai meraba pahanya kiri yang terbuka
itu.
Inge betul-betul penuh pengertian saat
tangan kananku sibuk meraba pahanya, ia yang menyuapkan nasi ke mulutku
hingga tanganku diberi keleluasaan untuk bermain di pahanya dan sampai
vaginanya pun kuraba-raba dengan penuh kemesraan.
Kadang-kadang tangan kananku kupakai
untuk menyendok makanan lagi, tapi lebih sering kupakai untuk berkarya
di paha dan lubang vaginanya sedang Inge yang terus dengan kasih
sayangnya menyuapiku dengan makanan sampai suatu saat Inge mendesah dan
memegang tanganku yang berkarya erat-erat seraya berkata,
“Pak, karya tangan Bapak benar-benar hebat bisa membuat Inge basah.”
Lalu kuraba vaginanya ternyata CD-nya
juga sudah basah apalagi lubang vaginanya, ujung jar-jariku kumasukkan
ke lubangnya untuk bisa mengkait lendir yang menempel di bibir
vaginanya, ternyata usahaku itu berhasil juga. Kulihat ada lendir kental
mirip cendol menempel di ujung telunjukku, segera kujilati lendir itu
dan kutelan bersama makanan yang disuapkan oleh Inge. Aku betul-betul
merasa “hot” makan daging kambing dicampur lendir Inge, kurebahkan
kepalaku ke kepalanya Inge sambil berbisik,
“Inge sayang, saya menyayangimu.” Inge menjawab,
“Pak, sebentar lagi Inge menjadi kepunyaan Bapak seluruhnya, Inge akan memberikan segalanya yang terbaik untuk Bapak nanti. Percayalah!” sambil mencium pipiku.
“Pak, sebentar lagi Inge menjadi kepunyaan Bapak seluruhnya, Inge akan memberikan segalanya yang terbaik untuk Bapak nanti. Percayalah!” sambil mencium pipiku.
Selesai makan, kita langsung kencan
menuju Hotel CB di kota atas yang banyak pemandangannya walaupun itu
hotel kuno. Kita langsung check in. Inge tetap manja, jalan sambil
merangkul pinggangku dengan badannya disandarkan ke tubuhku. Pintu kamar
segera kukunci setelah pelayan menyiapkan air minum, sabun dan handuk.
Inge ganti kupeluk dan ia pun merangkul
leherku erat-erat hingga permainan ciuman mulut, bibir dan lidah
berlangsung dengan hangatnya dan penuh kemesraan. Karena saat aku
menciumnya, kukecup dalam-dalam bibirnya dengan penuh perasaan hingga
Inge bukan merasakan kenikmatan saja tetapi juga merasakan kasih
sayangku.
Setelah berciuman dengan mesranya untuk
beberapa saat, maka tanganku kupakai untuk meraba punggungnya yang
terbuka, kurasakan tubuh Inge cukup hangat lalu kupegang rok bagian
kedua pundaknya dan kutarik ke depan, Inge pun membantu dengan
meluruskan tangannya ke depan sehingga roknya bagian atas langsung lepas
dan payudaranya yang masih kenyal dan hangat kalau diraba itu terlihat
dengan jelas di depan mataku ditambah putingnya yang kelihatan mulai
membesar dan tegang dengan warna merah padma membuatku terpesona.
Walaupun aku sudah sering menelanjangi
dan meniduri pacarku kencan di hotel, tetapi bentuk tubuhnya yang
berbeda itu mempunyai daya rangsang yang tersendiri. Hanya karena
kebiasaan yang sudah sering melihat pacarku dalam keadaan telanjang
bulat itu yang bisa membuat aku mengendalikan emosi dan gelora nafsu
mudaku.
Roknya terus kutarik ke bawah sehingga
terlepas semua kemudian kuambil dan kutaruh di atas meja dan Inge
kuangkat untuk kutidurkan di ranjang dengan masih memakai CD saja. Tapi
CD-nya pun kulorot untuk dilepas dan vaginanya yang seperti bukit kecil
itu tertutup oleh rambut yang cukup lebat.
Aku kemudian melepas T-Shirtku dan
celana panjang serta CD-ku sambil memandangi tubuh Inge yang telentang
di ranjang dengan pose yang menggiurkan ditambah lidahnya yang sering
membasahi bibirnya itu. Kudekati Inge kemudian kuciumi seluruh wajahnya
dengan tangan menjelajahi seluruh daerah dadanya termasuk lembah dan
bukit maupun puncak payudaranya sampai ke pusarnya dan perut bagian
bawah.
Setelah ciumanku berpindah ke bagian
dadanya terutama bukit-bukit payudaranya, tanganku mulai beraksi di
sekitar vaginanya serta pahanya serta sekali-kali rambut bawahnya
kutarik pelan-pelan sambil jari tengahku menggelitik clitorisnya yang
mulai nongol. Lalu kuciumi terus perutnya bawah sampai rambut
kemaluannya dan daerah sekitar vaginanya dan pahanya serta tanganku
terus mengusap dan memijit betis serta telapak kakinya.
Ciumanku terus ke lututnya, kemudian ke
betis, tumit kaki lalu telapak kakinya sampai jari-jari kakinya pun
kuhisap satu persatu semua baru aku balik naik menghisap daerah
selakangannya dengan membuka lebar-lebar pahanya lalu daerah antara anus
dan vagina itu kucium dan kukecup serta kujilati sehingga Inge mendesah
kenikmatan dan terasa ada cairan lendir yang menyemprot keluar dari
lubang vaginanya. Setelah kulihat benar terlihat dari lubangnya vagina
mengalir keluar cairan lendir dengan bau khusus.
Langsung kucucup lubangnya dan kusedot
kuat-kuat hingga sruuuuttt… lendirnya masuk ke dalam mulutku dan
kugelitik terus selangkangannya supaya cairan nya keluar lagi lebih
banyak dan kusedot terus dan ternyata benar Inge masih mengeluarkan
lendirnya yang masuk kemulutku. Rasanya asin2, asem dengan bau khas
seperti juga milik pacarku, aku memang jadi semangat dengan minum
lendirnya.
Langsung saja Inge kuajak main dengan
pose 69, aku segera naik ke atas tubuhnya dan penisku kupaskan dihadapan
mulut Inge supaya mudah ia untuk mempermainkan penisku dengan lidah dan
mulutnya sedang aku sendiri segera menyingkap rambut kemaluannya yang
rimbun itu untuk menjilati clitorisnya.
Lalu kugigit-gigit dan kutarik-tarik
juga clitorisnya dengan bibirku. Inge tampak terangsang sekali dengan
permainan mulutku di daerah vaginanya, apalagi pahanya sekarang kubuka
lebar-lebar dan selangkangannya antara anus dan vaginanya kugosok terus
dengan jari-jariku dan kadang-kadang kujilati.
Begitu clitorisnya kugetarkan dengan
ujung lidahku yang bergerak begitu cepat (seperti lidah cecak katanya
pacarku) hanya semenit saja Inge sudah berontak dengan kakinya dan
pantatnya digerakan kesana kemari kemudian mengaduh,
“Aduuuuh Pak, Inge nggak tahan… sudah
keluar dan lemas Pak.” Saat itu terasa lendirnya menyemprot dan mengenai
hidungku, segera kucucup lagi lubang vaginanya untuk kusedot semua
lendirnya yang sudah keluar di lubang vaginanya.
Aku merasakan kenikmatan juga dari
semprotan lendirnya itu dan vaginanya jadi basah semua. Aku sekarang
membelai rambutnya dan mengusap keringat yang banyak dikeningnya serta
bertanya, “Inge sayang, apakah Inge sudah capai?”
“Belum Pak, Inge cuma lemas saja karena
tak kuat menahan kenikmatan yang luar biasa dari permainan lidah Bapak
tadi, rasanya sampai ujung rambut dan ujung kaki Pak” sahutnya.
“Kalau begitu kita main lagi ya?” kataku.
“Kalau begitu kita main lagi ya?” kataku.
Inge mengganggukan kepala. Lalu aku naik
lagi ketubuhnya dan kumasukkan penisku pelan-pelan ke lubang vaginanya,
kemudian kutarik keluar lagi pelan-pelan setelah masuk keluar ini
lancar berulang-ulang lalu penisku langsung kubenamkan seluruhnya ke
dalam vaginanya, sampai Inge menghela napas panjang menahan sakit dan
nikmatnya karena katanya masuknya terlalu dalam.
Setelah itu kugerakan pantatku memutar
searah jarum jam sehingga Inge menjerit kenikmatan terus karena
clitorisnya tergesek oleh rambut kemaluanku dan dinding dalam vaginanya
tergesek oleh batang penisku yang mengeras sehingga ia berbisik,
“Aduuuh Pak, nikmat rasanya luar biasa.
Aku mau orgasme Pak.” Mendengar itu aku langsung menciumi payudaranya
yang sebelah kiri, karena Inge bilang lebih sensitive dari pada yang
kanan dan putingnya langsung kugetarkan lagi dengan ujung lidahku.
Tanpa basa basi lagi hanya beberapa
detik terasa vaginanya mencengkeram penisku dan berdenyut-denyut serta
ada lendir hangat yang menyiram penisku. Inge sudah klimaks, ia tampak
terkulai lemas.
“Capai Inge, sayang?” tanyaku.
“Iya… Pak” sahutnya lirih manja.
“Tolong Inge diberi air maninya Pak” pintanya.
“Sekarang?” tanyaku.
“Iya Pak.”
“Tahan sebentar lagi iya, nanti aku semprotkan”.
“Iya… Pak” sahutnya lirih manja.
“Tolong Inge diberi air maninya Pak” pintanya.
“Sekarang?” tanyaku.
“Iya Pak.”
“Tahan sebentar lagi iya, nanti aku semprotkan”.
Lalu aku mengkonsentrasikan segenap
pikiranku pada segala keindahan tubuh Inge yang sedang kunaiki ini dan
tingkah polanya yang merangsang sambil memandang bibirnya yang merah
basah merangsang. Kugenjot terus gerakan penisku naik turun dan semakin
lama semakin cepat sampai Inge menggeliat, menggelinjang tak karuan
sambil menarik lepas sprei dan meremas-remasnya dan akhirnya,
crruuuutttt… cruuuuuttttt… crrruuuutt, maniku menyemprot kedalam
vaginanya sambil kutekan terus penisku dalam-dalam ke vaginanya.
“Sssseeetttt…. aacccchh, Inge merasakan
kehangatan yang luar biasa dari air mani Bapak.” Dan Inge pun orgasme
lagi karena penisku merasakan vaginanya berdenyut-denyut lagi.
Setelah beberapa menit kita istirahat
dengan tidur bertindihan sambil berpelukan, kita bangun tidak terasa jam
telah menunjukkan pk 9.30. Karena sudah agak malam Inge cepat-cepat
bangun dan mengambil handuk yang dibasahi lalu membersihkan penisku dan
kemudian vaginanya. Kita tak cuci karena makan waktu lama.
Segera Inge memakai roknya lagi,
demikian juga aku. Sedang CD-nya dilipat dan dimasukkan ke dompetnya
karena masih basah kena lendir saat kugosok clitorisnya di rumah makan
tadi. Dalam perjalanan pulang Inge sempat bertanya,
“Bapak jadi kawin kapan?”
“Iya masih 2-3 tahun lagi, tunggu pacarku selesai kuliah”, sahutku.
“Kenapa?” tanyaku. Inge merebahkan kepalanya ke bahuku sambil berkata,
“Inge tak akan kawin dulu kok tunggu kalau mungkin ada mukjizat.”
“Maksud Inge?” tanyaku.
“Iya masih 2-3 tahun lagi, tunggu pacarku selesai kuliah”, sahutku.
“Kenapa?” tanyaku. Inge merebahkan kepalanya ke bahuku sambil berkata,
“Inge tak akan kawin dulu kok tunggu kalau mungkin ada mukjizat.”
“Maksud Inge?” tanyaku.
“Siapa tahu suatu saat Inge dapat kabar
gembira dari Bapak. Sebab Inge malam ini benar-benar merasakan
kenikmatan yang hebat dari Bapak dan lebih dari itu Inge merasakan Bapak
meniduri Inge dengan penuh kasih dan kemesraan yang layaknya suami
istri yang dipenuhi rasa cinta. Kapan-kapan Inge boleh merasakan lagi ya
Pak?”
“Kapan saja Inge kangen saya bersedia, tapi Inge harus benar-benar atur waktunya jangan sampai Inge hamil yaa!” pesanku.
Saat mobil sampai di rumah kost, Inge
tak segera turun ia malah merangkul leherku dan ditariknya aku, lalu
diciuminya seluruh wajahku dengan penuh perasaan hatinya dan terlihat
matanya memerah dan berkaca-kaca. Aku jadi terenyuh dibuatnya, kubelai
rambutnya dan kuusap matanya yang berair lalu kubisiki,
“Inge jangan sedih, kan tiap hari kita
masih bertemu. Inge malam ini capai nanti langsung istirahat ya, jangan
melamun macam-macam ya sayang?” pesanku sambil kubelai sayang dari
rambutnya pipinya terus payudaranya sampai pahanya yang terbuka itu,
baru Inge mau turun dengan senyum kecil.
Esok harinya di kantor pagi-pagi saat
kupanggil Inge untuk memberikan tugas, ia masuk ke kamarku dengan
senyum-senyum manja, setelah kujelaskan tugas-tugas yang harus
dikerjakan kutanya kenapa kok senyum-senyum. Inge menjawab sambil
mendekat ke sisiku,
“Pak, air maninya semalam baru keluar
tadi saat Inge duduk di kantor, sekarang CD Inge jadi basah.” Karena
Inge sudah mendekat tandanya minta untuk dibuktikan, maka kuraba melalui
bawah roknya dan benar CD bagian vaginanya basah juga sela-sela pahanya
basah agak licin dan ternyata baunya memang seperti maniku.
Aku bilang,
“Inge kamu cuci dulu sana ya.” Inge menggelengkan kepalanya dan berkata,
“Biarin saja Pak, Inge toch nggak punya
CD lagi di kantor malah nggak enak kalau dilepas CD-nya, sampai nanti
sore juga tak apa-apa malah nanti siang mungkin sudah kering sendiri.”
Lalu tanganku digenggam erat-erat dan memandang tajam penuh arti dan
berkata,
“Kapan Bapak mau memberikan kemesraan dan kepuasan lagi pada Inge?”
“Kapan saja terserah Inge”, kataku.
“Kapan saja terserah Inge”, kataku.
Semenjak itu aku sering diajak kencan
hampir tiap minggu sekali dan setelah pacarnya baik kembali hubungannya,
hubungan seks tetap berlangsung terus kira-kira tiap bulan sekali
sambil cerita-cerita apa saja yang dilakukan suaminya padanya.
Sampai sekarang sudah hampir sepuluh
tahun berlalu dan aku sudah pindah kerja di bank, sedang Inge
menggantikan jabatanku dan kami masing-masing telah berkelarga dan punya
anak, tapi hubungan intim itu masih tetap berlangsung di siang hari
saat jam makan siang, hanya frekuensinya jauh berkurang kira-kira 3-4
bulan sekali.
Tapi justru karena waktu yang lama itu menyebabkan tiap kali hubungan intim itu tambah mesra saja dan bukan menjadi kebosanan.
Posted By : www.tugupoker.net


Comments
Post a Comment