Agen Poker Online - Ibu ku Seorang Germo yang Memiliki Bisnis Warung Remang-Remang
Agen Poker Online - Ibu ku Seorang Germo yang Memiliki Bisnis Warung Remang-Remang - Namaku Shinta. Aku seorang gadis remaja, usiaku 15 tahun. Semua temanku
menyukai ku karena keceriaan aku dalam berteman. Duduk di bangku smp aku
biasa disebut gadis yang suka bergaul, lincah dan centil. Namun
berjalannya usiaku yang semakin dewasa.
Agen Poker Online - Banyak pembicaraan yang aku dengar dari
tetanggaku. Maupun dari teman-temanku. Bahwa aku dari anak seorang
pelacur murahan. Tempat pelacuran yang terkenal di daerah bekasi.
Komplek pelacuran tanah merah Kedung Waringin. Yang berdiri di atas
tanah tanggul.
Disanalah ibu ku mencari nafkah, dengan
menjual dirinya kepada laki-laki pemburu shahwat. Aku tidak perduli,
karna memang aku belum mengerti tentang apa itu pelacuran. Akupun tak
perduli apa yang di lakukan ibuku dengan profesinya. Yang aku tau aku
mempunyai seorang Ayah tiri dan ibu kandung.
Aku pernah bertanya dengan ibu ku. Siapa
ayah kandungku. Namun ibu hanya terdiam dan menganggap ku anak yang
masih kecil, yang penting kamu bisa jajan ga usah nanya-nanya soal
ayahmu..Itulah yang keluar dari mulut Ibu ku kalo aku menanyakan tentang
siapa Ayah kandungku.
Aku lihat ibu bersolek dengan Farfum bau
yang menyengat hidungku. Sore pukul 18.00 Ibu bersiap untuk pergi
bersama ayahku seperti biasa. “Kamu jaga rumah nak..kalau mau keluar
tolong pintu di kunci yang rapat” Pesan ibu ku di kala setiap mau pergi.
Yang aku tahu kepergian mereka setiap
malam, untuk mencari uang. Aku tidak perduli dan memang gak harus
peduli. Yang penting aku dapat sekolah dan bisa jajan yang di berikan
orang tua ku.
***
Pukul 07.00 Aku bersiap untuk berangkat
sekolah. Kulihat di kamar orang tuaku mereka belum terlihat, berarti
mereka belum pulang dari tempat mereka mengais rejeki. Aku bergegas
mandi. Waktu hampir menunjukan setengah delapan kurang berarti aku
telambat, karna memang hari ini akan ada acara OSIS, jadi harus pagi
sekali aku berangkat ke-sekolah.
Terbiasa hidup sering di tinggal orang
tua membuatku menjadi gadis belia yang bebas tampa ada yang melarang
kemana pun aku pergi bermain. Tidak perdulinya orang tua ku dengan apa
yang aku lakukan membuat ku menjadi anak yang kuarang perhatian dan
kasih sayang. Termasuk urusan aku sekolah pun Orang tua ku tidak
memperdulikan.
Bergegas aku berangkat ke sekolah. Bagas sahabat karib kekasih ku, Rian sudah membully ku
“Widiiih.. cantik bener loe hari ini Shin…!” ” Rayu bagas teman tapi mesra-ku
“Mmm…mau cantik kek, mau jelek kek,
masalah buat loe.” Ku perlihatkan mukaku dengan jutek. Aku pun berlari
menuju ruang kelas dengan berlari kecil. “Shiin.. di cari’in ama Rian..”
Teriak bagas. “Bo’do amat cowok kurang kurang berani ..hehehe.” Cela
ku.
Rian adalah kekasih ku, juga sebagai
kakak kelas ku. Dengan nya aku selalu mengungkapkan curhatanku padanya.
Namun hari-hari ini dia selalu menghindar dari ku. Entah kenapa yang
membuat dia selalu menghindar dariku. Bahkan sms ku jarang di balas, pon
pun sering di rijek. Namun aku tidak memperdulikan, karna aku memang
bebas lepas tampa ikatan apapun dari orang tuaku maupun dari pacarku
Rian.
Memang seminggu sebelumnya. Rian mencoba
datang kerumahku di malam minggu. Mencoba untuk mengetahui siapa dan
apa keluargaku. Mungkin itu dia mulai memberanikan main kerumahku.
Sebelumnya Rian hanya berani menemuiku di jalan dan mengobrol di tempat
yang gelap.
Bisa di katakan Rian sangat pemalu,
justru yang bertentangan dengan sifatku yang bebas. Namun di balik
pemalunya aku suka. Suka untuk menggoda dia agar menjadi Cowok yang
gentleman. Apalagi dengan yang polos membuat aku menambah suka padanya.
Bisa di katakan kami pasangan remaja
yang Fenomenal di sekolah kami. Dengan gaya tomboy tapi seksi dan Rian
seorang anak cowok yang kuper dan pemalu. Sehingga menjadikan kami
sepasag yang gak nyambung dalam sifat.
“Riaan nanti malam main yah kerumah.. jangan di tanggul mulu ah, ketemuannya .” Aku mengirim Sms.
“Gak ah.. aku takut lihat ibu mu say..” Balas Rian.
“Ih kamu mah masa sama ibu ku aja takut.. gimana mau pacaran di rumah kalau lihat ortu ku takut.” Jawabku dalam sms itu.
“ii ya dah nanti yah jam delapan..” Balas Rian.
” Ok sayaang aku tunggu yahh..” Balas ku kembali.
“Gak ah.. aku takut lihat ibu mu say..” Balas Rian.
“Ih kamu mah masa sama ibu ku aja takut.. gimana mau pacaran di rumah kalau lihat ortu ku takut.” Jawabku dalam sms itu.
“ii ya dah nanti yah jam delapan..” Balas Rian.
” Ok sayaang aku tunggu yahh..” Balas ku kembali.
Rasa gembira di hatiku ketika Rian bersedia untuk main kerumahku..
***
Tidak seperti biasa. Aku melihat ibu ku
tidak bersama ayahku. Biasanya mereka kalau mau berangkat ke tempat
warung remang-remang yang mereka kelola, selalu berdua. Namun kali ini
aku melihat ibu ku sendiri berdandan dan menghias diri.
“Bu Ayah kemana ko gak kelihatan,” Tanya
ku pada ibu ku yang masih bertelanjang, hanya BH dan celana dalam yang
ia kenakan yang menurut ku sangat seksi di kenakan ibu ku yang setengah
baya itu. Dengan stockingnya yang hitam dan tembus pandang, terlihat
seksi aku lihat. Ayah duluan ada urusan sama teman-temannya. kamu gak
keluar malam ini..” Kata ibuku.
“Mmm… gak bu.. ooh nanti temen Shinta mau maen kemari bu..” Kilah ku.
“Cowok yah.” Kata ibu ku.
“Iya bu namanya Rian temen sekolah ku..”
“Temen apa pacar,..” Ledek ibu sambil menggunakan lipstick di bibirnya.
“Temen..bu..” Aku sedikit berbohong.
“Cowok yah.” Kata ibu ku.
“Iya bu namanya Rian temen sekolah ku..”
“Temen apa pacar,..” Ledek ibu sambil menggunakan lipstick di bibirnya.
“Temen..bu..” Aku sedikit berbohong.
“Ya udah yang penting kamu hati-hati
jaga diri dan rumah. Ibu mau berangkat yah..” Kata ibu ku sambil
memegang hp nya sepertinya mau menelpon seseorang entah ayahku atau
lelaki lain, selain Ayahku. “Haloo sayang.. aku sudah siap nih.. jemput
aku yah..” Kata ibu ku dalam pembicaraan di hand phon-nya.
Rupanya Ibu mau berangkat bersama lelaki lain dan bukan Ayah tiriku.
“Ibu berangkat sama siapa.?” Tanyaku.
“Ini temen Ayahmu, sesama Preman di sana ” Kata ibu ku
“Ini temen Ayahmu, sesama Preman di sana ” Kata ibu ku
Aku hanya mengangguk walaupun gak aku
mengerti apa yang ibu maksud.. Terlihat seseorang lelaki yang ibu
maksud. Dengan menggunakan motor gede, berjaket hitam, dan berperawakan
cukup tegap, memakir motor di depan rumah ku. Rupanya teman pria ibuku.
“Permisi dee.. ibu ada.?” Sapanya
“Ada pak.. tunggu yah.. ibuu ada yang nyariin .” Teriak ku dan segera kedalam menghampiri ibu yang masih berada di kamar.
“Ada pak.. tunggu yah.. ibuu ada yang nyariin .” Teriak ku dan segera kedalam menghampiri ibu yang masih berada di kamar.
Ibu pun keluar. Rupanya ibu belum selesai berdandan.
“Silahkan masuk mas.. mmm.. aku belum selesai dandannya mas.” Kata ibu ku dengan manja.
“Ok aku tunggu yah.. cepetan dandannya.. ” Kata pria itu sambil duduk di sofa.
“Ok aku tunggu yah.. cepetan dandannya.. ” Kata pria itu sambil duduk di sofa.
Setelah berapa lama ibu tidak kunjung
keluar dari kamarnya, ternyata membuat lelaki itu gelisah menunggu.
Sebentar berdiri sebentar duduk. Melihat tingkah laku Pria itu, aku pun
jadi risih melihatnya. Akhirnya aku memutus untuk keluar, dan menunggu
Rian yang mau datang menemuiku.
Selang berapa lama aku mencoba untuk
kembali kedalam. Aku terkejut ternyata pria itu tidak ada di dalam, aku
cari kesetiap pojokan ruangan. “Mmm.. kemana om-om tadi ,” Bathinku.
Terlihat daun pintu Ibu ku terbuka, aku penasaran, ‘Apakah om-om tadi
ada di kamar Ibu ku.’
Dugaan ku benar, ternyata om-om itu
sudah ada di dalam kamar Ibuku. Namun aku gak berani mengintipnya, aku
hanya mendengarkan suara dari balik daun pintu mamahku. “Mas jangan
sekarang kita kan mau pergi.. nanti telambat looh.. eehh” Sekilas aku
mendengar ibuku berbicara dengan om-om itu.
“Sebentar aja .. nanti dah selesai baru kita berangkat..” Kata om-om itu dengan manja.
“Ya udah tapi ingat yah, sebentar saja…
buru-buru kamu keluarin… awas loo mas, takut suami ku menunggu.”
Terdengar ibuku berucap manja. “Tenang aja maam.. aku tau cuma sekalii
aja selagi suami kamu disana! kapan lagi aku bisa menikmati memek
Mamih..” Ucap om-om itu yang memilukan telinga ku.
Rasa penasaran terlintas di hatiku,
untuk melihat apa yang di lakukan om-om itu di kamar Ibu ku. Rasa untuk
mengintip akhirnya aku lakukan. Rasa jantung ini berdebar kencang,
saat-saat aku membuka daun pintu itu, secara perlahan-lahan. “Astaga…
aku melihat Ibuku di cumbu dan di cium dengan rakusnya. uleh om-om itu.
Sudah dalam keadaan bertelanjang tidak sehelai benang pun yang menempel
dubuh nya.
Sambil duduk di samping tempat tidur.
Dan aku meliahat om-om itu berdiri di hadapan Ibu ku, entah apa yang di
lakukan Ibu ku. Ibu ku berhadapan deket sekali dengan selangkangan om-om
itu. Aku kurang jelas melihatnya, karena pantat om-om itu menghalagi
muka Ibu ku. Aku penasaran apa yang di lakukan Ibu.
Tak berapa lama, om-om itu membuka
celana jiens nya, aku lihat bokong nya yang kekar walaupun hitam. Dengan
terhalang bokong om-om itu, aku kurang tau apa yang di lakukan ibu ku,
terlihat ibu ku sedang memainkan penis om-om itu. Aahh.. makin penasaran
aku dengan mereka, apa yang mereka perbuat dengan begitu, maklum aku
belum pernah mengetahui apa yang mereka perbuat.
Sedikit aku pejamkan mata, rasa takut
dan penasaran, menyelimutiku. Ku lihat kembali ternyata mereka sudah
keadaan bugil. Ku lihat ibu sedang asik memainkan selangkangan om-om
itu. Si om hanya meringis terdengar desahannya. “Ahhh…eehmm.. enak
sayaang aahh aku suka aahh uuuhhh..” desah om-om itu.
“Ayoo.. mas buruan kuarin… uuhuhuhu..” Terdengar desahan ibu ku yang merintih nikmat.
Aku perhatikan dengan penuh penasaran,
aku kaget ketika si om-om itu membalikan tubuhnya dengan kaki kanannya
yang di angkat ke sisi tempat tidur, dan menyamping. Kini aku melihat
jelas apa yang di lakukan ibu ku.
Ternyata sedari tadi Ibu ku sedang
memainkan penis om-om itu dengan mulutnya. Aku merasa jiik melihatnya,
namun rasa penasaranku semakin mem beranikan diriku untuk mengintipnya.
Terlihat ibu sangat menikmati Penis om-om itu, terliahat besar dan
memanjang.
Dengan lidah nya ibu ku menjilati setiap
sisi batang penis om-om itu. Om-om itu hanya mendangak keatas, dan
terkadang tersenyum puas memandang wajah ibu ku yang sedang bernafsu
menikmati batang penis om-om itu. Di masukan dalam-dalam, di jilati
kepala penis itu. “Mmm…. enak mas..mm.. besar banget si mas..mmm.. pakai
obat yaah..” Desah ibu ku terdengar sayup-sayup.”. Si om-om itu hanya
tersenyum mendengar gumamam ibu ku. “Suka yah sayaang.. suka kan yang
gede-gede..hehehe.” Ledek om-om itu dengan senyum puas.
Om-om itu bergerak kembali kehadapan ibu
ku. dan memaksa ibu ku bertelentang. Dengan posisi berdiri om-om itu
mencelentangkan ibu ku. Ibu ku menuruti apa yang di minta om-om itu.
Dengan posisi kaki di angkat ke atas, Ibu ku mengangkangkan ke dua
pahanya yang terlihat besar dan putih. Terangkat setinggi-tingginya
membuat Vagina ibu ku begitu nyata terlihat tebal, tembem dan di tumbuhi
bulu-bulu yang lebat di sekeliling vaginanya. Om-om itu pun segera
berjongkok di sisi di mana ibu ku sedang mengangkangkan ke dua paha nya.
“Mmm… sayang besar banget memek kamu.. uh.. mmm.. aku jilatin yah.” Kata om-om itu.
Sssst… Om-om itu mulai memainkan
lidahnya. Dengan rasa rakus Vagina ibu ku di santapnya, di gigit
lelentit yang sedari tadi sudah membesar dan memerah.
“Mm.. iyaah… ahh.. geliii…” Rintih ibu
ku sambil bergelenjang nikmat dan gerakan yang tidak teratur dan nafas
tersengal-sengal, membuat ibuku mengayun-ngayun kan kakinya ke atas.bak
seperti mengayuh sepeda. “Ahhh,,, mas uhh…oyo mas …uuhh
..ssst..ehmmm…isep terus mas uuhhh…” Ibu ku makin bergelinjang nikmat.
Merasa nikmat yang sangat luar biasa
yang di lakukan om-om itu di vagina ibu ku, membuat ibu bergelinjang dan
menaikan bokongnya berulang-ulang, sehingga membuat om-om itu sulit
untuk menjilati. Si om-om itu tidak kehabisan akal, di dekapnya kedua
kaki ibu ku dengan kedua tangan nya, sehingga membuat ibu ku tidak lagi
bergelinjang.
“Maaass….eeenakk…ahh… geli maass…
ssst..” Ibu mendesah dengan muka menoleh kearah om-om itu. Tangan nya
memegang kepala om-om itu yang berrambut cepak.
Om-om itu asik menjilati vagina ibu ku
yang terlihat tembem, dan penuh dengan bulu-bulu yang menghiasi di
sisi-sisi vaginannya dengan sangat indahnya dan teratur rapi. Karna ibu
ku memang suka merawat tubuhnya, apalagi veginanya yang selalu di jaga
kebersihannya.
Dengan rakusnya om-om itu menjilati
vagina ibu ku, dan membuat ibu ku bergelinjang nikmat dengan desahan dan
nafas yang tersengal-sengal yang membuat suasana menjadi mencekam.
“Aaahh…eeennaak ..mas uh.. ayo mas isep terus uh.. aah..” Desah ibu ku.
“Mmm…ssssst….” Om-om itu pun berdesah sambil menghirup air yang keluar
dari vagina ibu ku.
“Ahh…slursuslp…ssst ..mmm,,oh..” Dengan
bangganya om-om itu bisa membuat ibuku puas dengan mainan lidahnyanya di
kelentit ibu ku yang terlihat membesar dan memerah.Terasa seperti
mementil, lidah om-om itu mengulum-ngulum kelentit ibu ku. Tak puas
dengan perminan lidahnya di liang vagina ibu ku, om-om itu mulai
mengocok-ngocok penisnya dengan tangannyasendiri. Rupanya si Om sedang
membangkitkan penisnya kembali.
“Cepat.. memebesar doong..Cepet
keluarin.. aku takut mas.. suami ku menunggu ..ahh” Teriak ibu ku.
Rupanya ibu ku tersadar bahwa ia sedang di tunggu ayah tiriku di warung,
di mana para wanita anak buah ibu ku menjajahkan kenikmatan sesaat.
Mendengar ibu sedang di tunggu ayah, aku
jadi takut kalau ayah tiri datang menjemput ibu ku. Dan ternyata ada
laki-laki yang menggauli ibuku. “Ah biar lah toh sudah terbiasa
mungkin.” Bathin ku. Setelah kupandang lagi. Ternyata ibu ku sudah
bergumul dengan om-om itu.
Terlihat dengan posisi ke dua kaki ibu
ku berada di pundak om-om itu. dan si om posisi berdiri dan berpegangan
dengan kedua tangannya ke kasur. Pantatnya yang terlihat besar membuat
aku ikut merangsang memperhatikan bokong om-om itu.
‘cpluk, cpluk, cpluk,’ Terdengar suara dari sentuhan kulit ibu ku dan om-om itu.
“Ahh…enaaak…mam…ah.. uh uh uh..” Om itu dengan cepatnya menghujamkan penis nya ke vagina ibu ku.
“Eeeeh…aaahh…pelan-pelan mas.. ah.. uuh..aaah..” Sangat berdesir aku mendengarnya.
“Ahh…enaaak…mam…ah.. uh uh uh..” Om itu dengan cepatnya menghujamkan penis nya ke vagina ibu ku.
“Eeeeh…aaahh…pelan-pelan mas.. ah.. uuh..aaah..” Sangat berdesir aku mendengarnya.
Desahan mereka membuat aku gak bisa diam
melihatnya. Tampa ku sadari aku pun terbawa nikmat seiring gerakan dan
desahan mereka. “Eeegghht… aku merabah sedikit celana dalam ku yang ku
kenakan. tak sadar aku pun merabah vaginaku..”Ohh…mmm.”
Ternyata vaginaku ikut basah.
“Ahhh…eeeemm…” Ku rasakan denyut di dinding vaginaku dan tersa gatel
“eeehss..” Aku terus berdesah, meracau sendiri. Tiba-tiba sms berbunyi..
triliiing..Ku baca sms itu ternyata dari cowokku. Aku pun teringat
kalau Rian yang berniat mau main kerumahku.
“Aku di depan rumah nih.” Tulis sms nya
“Oh yah masuk aja kerumah. ” Balas ku.
“Oh yah masuk aja kerumah. ” Balas ku.
Suara motor terdengar, ia pun memakirkan motornya di sebelah motor om-om itu.
“Ini motor siapa say.” Tanya Rian
“Motor tamu Ibu ku.” Jawabku.
“Motor tamu Ibu ku.” Jawabku.
“Ohh.. ada tamu yah. gak mengganggu
say..” Rian kembali berujar. Rupanya masih ada ragu di hati Rian untuk
berkenalan dengan Ibuku ku. “Gak apa-apa ko ayo masuuk..”Ajak ku, dan
segera menarik tangan Rian ke ruang teras depan rumah.
Rian pun duduk di bangku yang khusus
untuk tamu yang mau bersantai di ruang teras rumah.. Aku pun duduk
sebelumnya aku mengambilkan minuman untuknya. “Di minum sayang….” Tawar
ku.
Aku pun segera mengambilkan minuman
untuk Rian. Ketika langkah ku mau menuju dapur untuk mengambilkan
minuman untuk Rian. Terbesit di hatiku ingin mengintip sekali lagi apa
yang di lakukan ibu ku terhadap om-om itu. “Ahhh.. ..” Kucoba untuk
membuang rasa penasaranku. Aku pun menuju ruang dapur. Namun desahan ibu
ku membuat aku semakin penasaran untuk melihatnya lagi.
“Ah .. ah .. ah… eeehhgt… ssst..” Terdengar desahan ibu ku yang semakin menggila ku mendengarnya.
Untuk menghilangkan rasa penasaranku ku
coba untuk mengintip kembali. “Enak..mas..aaahh..enaaakkk” Teriak om-om
itu dengan nafsunya menghujamkan vagina ibu ku dengan posisi Doggy
Style. “Uhh.. aahh..” Kulihat ibu posisi menungging dan dengan
leluasa-nya om-om itu mengocok-ngocok penis nya maju mundur dengan cepat
‘plok plok plok..
“aahhhh..uuh..gilaa..aaght..ehm.. masih enak memekmu mam..eeh..”om-om
meracau. “Setan lo mas..eehh.. dah tua-tua juga masih doyan meemeekk
bini .. oorang uuhh..ahhh..” Hardik nikmat terdengar dari rintihan
nikmat ibu ku.
Om-om itu mencoba memegang rambut ibu ku
yang panjang terurai. Di jambak dan di kepal rambut ibuku yang terlihat
masih tebal. Dengan mengepal rambut ibuku seperti menarik delman om-om
itu dengan asiknya mengocok-ngocok vagina ibu ku dengan gerakan maju
mundur dengan cepat
“Aw aw aw.. kamu nakal mas uuh mau di
apakan rambut ku.” Kata ibu dengan mata sayu nikmat. Ibu ku hanya pasrah
dan menikmati vaginanya “Uuuh..ee..eenaakk aaahh….”. Merasakan begitu
terasa nikmatnya, dan lebih nikmat dari penis ayah tiriku. Mungkin itu
yang terukir di hati ibu ku saat sedang merasakan vaginannya di
kocok-kocok sama om-om itu
“Ayo… maas.. sayang uuhh enaakk..aahh ”
Ibu ku kembali mendesah “Ini aaa..eeehh gurih memek kamu sayaaang,
aahhh..eenakk.. say…enak memek kamu oohh…” Racau om-om itu. ‘plok plok
plok’ Suaranya begitu jelas aku dengar, sentuhan dari kulit mereka. sleb
bleb sleb bleb “Ahh,,, uuhhh.” “Maass…sssstt gila kamu mas kontolmu
giilaaa..uhh..” Lagi-lagi ibu ku meracau nikmat “Ahhh..” Dengan gerakan
volume yang cepat, terlihat jelas di mataku, penis om-om itu keluar
masuk ke vagina ibu ku.
“Ah.. pelan-pelan maaas..” Uh ibu sangat
menikmatinya. “iya sayaaang aku kayanya ma ma mau keluar nih..eeegh..”
Terdengar suara om-om itu dengan terbata-bata. Om-om itu semakin
bersemangat mengocok vagina ibu ku dengan penisnya yang terlihat batang
dan urat-uratnya sudah mengencang “Aku siaap maas..menerima peju mu
..aah..” desah ibu ku..”
Om-om itu mengejang otot-ototnya,
sepertinya akan keluar sesuatu dari penisnya, yang telah mengacak-ngacak
vagina ibu ku. “Aght… aku keluar sayang uuuh..” Tiba-tiba om-om itu
naik keatas punggung ibuku, yang masih posisi meningging. “Eehh mau
kemana kamu maas..” Kata ibu ku, sambil membalikan kepalanya keatas.
Yang ternyata terlihat penis om-om itu sudah berada di muka ibu ku.
Dengan di kocok-kocok sendri dengan tanganya si om-om.
Terlihat kepala penis om-om itu sudah
memerah dan mengkilap dengan air mazinya. Dengan di acung-acungkan ke
mulut ibu yang sedang mendangak keatas. “Uhhh ayo sayang kamu nga-nga.”
suruh om-om itu. Mendengar perintah dari om-om itu ibu ku hanya menurut.
“Ahh,,… ” Mulut ibu ku terbuka lebar dan siap menerima apa yang akan
datang dari penis om-om itu.
‘Crot crot crot crot’ “aahh uhhh..”
Terlihat cairan putih kental keluar dari penis om-om itu. Entah apa
namanya air kental itu, aku tak tahu, karna aku belum tahu air putih
kental itu. Aku mendengar ibu menceloteh. “Uwweekk… uuh.. bau tau
mas…mmm.. uuh.. kesat sepet… sialan kamu maa..s…” Ucap ibu ku dengan
mata kosong menatap om-om itu.
“Uhh.. gila ibu ku rakus amat sampai di
minum air yang menjijikan dari penis om itu.” Bathinku ku. Setelah puas
dengan cairan yang kental putih itu keluar dari penis om-om itu. Kulihat
ibu ku sangat menikmati air putih kental itu, yang belumuran di seluruh
rongga mulutnya.
“sayang gimana rasanya hehehe..enak yah”
Tanya om-om itu kepada ibu ku dengan senyuman bangga. “Ssst.. sepet mas
uuh hehehe.bauuu…” Jawab ibu ku manja .”Tapi suka kaan..” Ledek om itu.
Ibu ku hanya mengangguk. Mereka pun
berpelukan dan mencium bibir ibu ku dengan mesra. “Ya udah pakai lagi
pakaian kamu! Ayo kita berangkat.” Om-om itu pun bergegas memakai
celananya.
Ibu ku segera merapikan rambutnya. Dan
memakai bajunya kembali seperti semula. Entah apa yang di rasakan di
kepala mereka. Mereka pun segera beranjak keluar kamar. Melihat ibu dan
om-om itu mau keluar, aku pun segera menjauh dari pintu. Rupanya aku
lupa aku sedang membawakan minuman untuk Rian yang sudah lama menunggu.
“Ma.. maaf yah say..hehehe lama..” Sapaku dengan tersenyum.
“Iya iya..” Rian mengangguk.
“Iya iya..” Rian mengangguk.
Terdengar langkah keluar. Rupanya ibu ku
yang mempunyai farfum khas yang di pakai jika mau berangkat ke warung
remang-remang yang ibu miliki tentu dengan puluhan PSK yang di bimbing
oleh ibu ku.
“Nak ibu berangkat yah..ooh.. teryata ada tamu.” Sapa ibu ku sambil bersalaman dengan Rian.
“Kenal kan Rian ini ibu ku.” Aku memperkenalkan Rian agar tidak canggung.
“Kenal kan Rian ini ibu ku.” Aku memperkenalkan Rian agar tidak canggung.
‘Ya udah ibu mau berangkat mencari
nafkah buat Shinta anak ibu yang manja ini.. kamu jaga rumah baik-baik
yah nak.” Kata ibu ku sambil membawa tas kecilnya, dan menuju motor
om-om itu. Om-om itu hanya tersenyum melihat aku dan Rian. Dan segera
menaiki motornya. Ibu ku telah siap sedari tadi menunggu untuk
berangkat.
Di dalam kencan pertama Rian kerumahku,
membuat aku gugup. Di tambah lagi aku baru saja melihat adegan yang
tidak aku mengerti. Adegan yang sangat aku berimajinasi apa yang di
lakukan ibu dengan om-om itu. Rian hanya diam, dia emang sangat pemalu
untuk bicara dulu, makanya aku kalau mau ngobrol sama dia harus aku dulu
buka pembicaraan, setelah itu baru Rian membuaka pembicaraan.
‘Udah minum jangan di lihatin doaang.” Ucapku untuk memulai obrolan.
“Yang laki-laki tadi ayhamu..” Tanya Rian yang membuat terkejut.
“Mmm.. bukan itu temannya ibu ku..” Kataku mencoba meyakinkan dengan wajah semeringah.
“Yang laki-laki tadi ayhamu..” Tanya Rian yang membuat terkejut.
“Mmm.. bukan itu temannya ibu ku..” Kataku mencoba meyakinkan dengan wajah semeringah.
Aku takut Rian memperpanjang pembicaraan
yang tentu akan menanyakan asal-usul aku dan siapa sebenarnya orang tua
ku. Akhir ya ku coba mengalihkan pembicaraan.
“Say masuk apa mau di luar aja.. masuk juga boleh kita nonton tv nyo..” Ajak ku.
“Mmm… ga baik ah,, berduan di dalam. orang tua mu kan gak ada.” Kilah Rian dengan wajah lucunya.
“Mmm… ga baik ah,, berduan di dalam. orang tua mu kan gak ada.” Kilah Rian dengan wajah lucunya.
“Ok dah.. gak mauya udah.. di sini
ajah..” Aku pun terdiam. Aku masih teringat apa yang barusan aku lihat.
Pengalaman aku melihat sepasang manusia yang bergumul, saling merabah,
menjilati, yang ternyata yang aku lihat itu adalah ibu ku sendiri.
Dan yang membuat aku sedih ternyata Ibu
masih suka melayani lelaki hidung belang. Dan pasti menghianati cinta
tulus ayah tiriku. Atau memang ayah tiriku cuek-cuek aja jika ibu di
gauli lelaki lain. Entahlah.
Masih teringang-ingang di telingaku
mendengar desahan dan racauan yang membuat darahku berdesir cepat,
desahan orang-orang dewasa yang belum aku mengerti arti sebuah desahan
kenikmatan. setelah aku menyaksikan erangan yang sangat memilukan
telingaku. Erangan dan racauan yang keluar dari Mamahku sendiri saat Ia
di senggama oleh lelaki yang bukan Ayah tiriku. Entah apa yang ada
dipikiran mereka.
“Eh!..Bengong aja,” Rian mengejutkan aku.
Aku, tertawa dingin untuk menutupi apa yang ada di pikiranku.
“Say..kamu mau kedalam gak, di sini dingin tau,” kata ku.
“Em..gimana yah aku takut kalau kita
kedalam, nanti ada yang curiga sama kita.” Aku mengerti apa yang Rian
maksud, memang Rian lelaki yang cukup dewasa, bisa membaca situasi dan
keadaan. “Em..terus kita ngapain, kalau di dalam kan kita bisa nonton
tivi,” ujarku. “Seterah kamu sih, aku hanya ngajak aja, itu juga kalau
kamu mau!”
“Sepertinya kamu seperti ada pikiran
dah!” Rian mencoba menebak-nebak apa yang ada di pikiranku. “Kalau ku
lihat, wajah kamu agak sedikit gimana gitu?!..”
“Ah perasaan kamu aja kali say,” ucapku.
“Ah perasaan kamu aja kali say,” ucapku.
“Cerita dong sayang..” katanya
membujukku. “Wajahmu tampak gelisah gitu, apa habis di marahi Mamah kamu
sebelum berangkat tadi sama teman cowoknya?.” Rian mulai merocos
menanyai aku dengan kepo.
Aku menggeleng kepala, berusaha untuk
menyembunyikan apa yang mengganggu di pikiranku ketika aku melihat
Mamahku bergumul sama lelaki yang tidak aku kenal, lelaki dari dari
teman Mamahku.
Aku berdiam sejenak. Tidak ada kata-kata
yang keluar dari mulutku. Rian pun begitu, dia hanya memandang awan
yang cerah dengan bintang-bintang bertebaran di angit nan jauh. Aku pun
ikut menyaksikan keindahan kelap-kelip bintang itu. Mereka saling
bergugus-gugus dengan teraturnya. Sungguh sangat mengesankan di kala aku
bersamanya, laksana dunia ini di miliki untuk selamanya dan hanya
berdua, “he..he..he..” aku tertawa di dalam hatiku.
Melihat Rian yang diam dan hanya
melongong-longong melihat ke atas langit, membuat ku tertawa cekikikan
di dalam hati. Wajahnya yang terlihat pilon dan culun, menambah lucu dan
jenaka. Sungguh aku makin cinta sama kamu Rian..
Engkau kakak kelasku berpikiran dewasa,
gak seperti cowok yang lain yang bisanya hanya mengajak pacaran di
tempat yang gelap sekedar hanya ingin mengecup bibir. Tetapi kamu,
pintar menepati keadaan, padahal kesempatan banyak untuk berbuat, tapi
sungguh ia menjaga etika dan adab, itulah yang membuatku kagum padanya.
“Eh..jam berapa ini?” Rian membuka
suara. Lalu ia melirik jam tangannya. “Sudah jam sembilan lewat, aku
rasa cukup untuk kita bermain-main sayang, dan juga kamu sudah terlihat
mengantuk.”
“Gak kok..santai aja lagi, abis kamunya
sih banyak bengong ngitungin bintang, aku jadi ngantuk dah hehehe,”
candaku. Rian pun sunggingkan senyum tampak manis di pipi terlihat
lesung di pipinya. “Em..jarang sekali cowok mempunyai lesung di pipi,”
batinku.
“Ya udah, toh masih ada hari esok,”
ujarnya. “Aku pulang dulu ya say!” Ia pun berdiri, lalu memandangku
dengan mata yang sayu, mungkin pusing kali abis ngitungin bintang
hehehe. “Ok..dah sayangku..” aku pun berdiri sambil ku cium telapak
tengannya, seperti layaknya suami istri dan wanita baik-baik mencium
tangan sang suami kalau ingin berpamitan kerja hehehe jiaaah…
Ia pun melangkah pulang. Motor yang
terpakir di halaman rumahku telah di nyalahkannya. Suara menggerung
seperti anak motor atau seperti motor yang kurang di rawat, tentu sangat
bising di dengarnya.
Tak beberapa lama Ia pun melaju dengan
roda duanya. Di tikungan ia mulai tak terlihat dari pandanganku. Aku
sungguh berbunga-bunga, melihat Rian telah memberanikan diri untuk
bermain kerumahku, walaupun desas-desus orang-orang yang ada di sekitar
rumahku, memvonis rumah sarang jablay dan aku di beri makan uang lendir.
Emm…aku masuk kamar, seperti biasa
dengan handset yang kupasang di telingaku, lalu aku putar untuk
mendengarkan lagu-lagu kesayanganku.Kamar yang sangat indah aku rasakan,
walaupun aku jarang sekali tidur di kamarku sendiri.
Terkadang aku tidur di rumah teman
sesama cewek, hanya untuk menghilangkan suntuk hidup sendiri di kala
malam karena tidak ada teman untuk mengobrol karena Mamahku yang selalu
sibuk dengan pekerjaannya sebagai ketua dari wanita-wanita penghibur
para lelaki yang mencari kenikmatan malam, itu juga kata orang yang
selalu aku dengar dengan menjelek-jelekan keluargaku.
Mata ku belum terpejam, pikiranku
menerawang keatas mengingat kembali apa yang Mamah lakukan di dalam
kamarnya bersama om-om itu. Ahh…mereka sungguh gila dan rupa daratan.
Kenapa aku harus mengintip Mamahku sendiri, oh sungguh anak yang tak
tahu diri.
Aku gelisah merasa bersalah apa yang aku
lakukan. Tubuhku terasa gak nyaman malam ini, rasanya selalu teringat
terus saat Mamahku bergelinjang ketika Vaginanya di colok-colok oleh
penis om-om itu. “Apa rasanya, jika memekku juga di colok-colok sama
punya Rian,” batinku. Aku berhayal seandainya tadi aku bermain sama
Rian, terus Rian mencolok-colok memekku ooh…pasti aku akan bergelinjang
apa yang di lakukan oleh Mamahku, enak kali yah.
Tampa aku sadari ketika aku berhayal dan
ingat kembali apa yang aku lihat perbuatan Mamahku. Tanganku merabah
celana yang aku kenakan. Celana yang hanya terbuat dari bahan tenun yang
tipis sehingga apabila aku sentuh, jelas sekali batok Memekku. Uh.. yah
batok memek yang masih putih dan belum di tumbuhi bulu-bulu ini. Aku
mengusap-ngusap dengan perasaan. Semakin lama semakin berdesir darahku.
Aku rasakan ada yang beda.
Vaginaku terasa cenat-cenut.
“Ohh…yeeaah..ssst…sungguh uuh..pantesan Mamahku terlihat menikmati
ketika Memeknya di jilati. Ohh…uh…sungguh enaak ssst ahh…” Aku terus
mengusap dan membelai vaginaku yang masih tertutup oleh celana rajutan
jarang. Karena merasa ada yang lain dalam desiran darah ku. Aku pun
memcoba untuk bertelanjang dada.
Baju kaos yang kau kenakan aku lepaskan.
Kini hanya BH yang masih terlihat, serta celana ngetrit yang aku pakai.
Ku pandang buah dadaku yang terlihat kecil, gak seperti punya Mamahku
yang terlihat besar dan menggandul hehehe.
Emm…ku pandangi puting meranum sangat
indah, oh.. mungkin ini untuk menetek ketika aku punya beby. Ssst..Aku
gak tahan akhirnya aku buka BH yang aku kenakan oh..aku merabahnya,
seperti apa yang aku lihat pada Mamahku yang di isap dengan rakus oleh
om-om itu, dan di remas-remas dengan rakus. “Emang enak yah!”
Emm.. Eght.. uh…aku mulai meremas-remas
payudaraku. Sttt…eght.. agak berdesir aku rasakan tiba-tiba aku
merasakan payudaraku mengembang dan mengeras dengan kencang dan padat.
Entah apa yang membuatnya begini aku tidak tahu. Yang aku rasakan
bergelinjang seluruh urat-uratku.
Sungguh sensasi sangat luar biasa yang
aku rasakan pertama kali dalam hidupku. Em…rupanya ini yang membuat
Mamahku merasa ketagihan dan terasa nikmat di rasakannya. Oh..Mamah enak
mah..sstt..enaaak.. Tampa aku sadari tangan kanan yang terus
meremas-remas payudaraku, aku mencoba untuk turun ke lebih bawah lagi.
Aku ganti tangan kiriku untuk merabah buah dada ku, dan tangan kanan aku
turun kan untuk merasakan sensasi Memek ku.
Celana tipis yang aku pakai masih
merekat, ku coba merabah gundukan di dalamnya yang bukan lain gundukan
memek ku, yeaah..aku merasa geli oh… terasa berdesir masuk ke rongga
liang memekku. Oh…sungguh sangat menggidikan bulu kuduk. Yeahh…aku
meronta-ronta aku ikuti irama desiran di mana tubuhku klepek-klepek
bergelinjang tak tentu arah.
Terkadang-kadang aku naikan bokongku
sambil terus merabah memek ku, lalu aku putar-putar oh.. sunguh sangat
nikmat walaupun masih terhalang celana dalamku. em…Mamah inikah yang
Mamah rasakan ketika om-om itu mengelus-ngelus memek Mamah.
Ssstt…benar-benar enak Mah.. Sensasi onani ku yang pertama aku rasakan
walaupun aku belum berani untuk merabah lebih dalam lagi.
Tiba-tiba aku di kejutkan dengan suara
Hape ku. Rupanya Rian yang menelponku. “Tumben Rian jam segini belum
tidur?!” pikrku. Memang gak biasanya Rian menelpon aku jam-jam saat-saat
orang-orang sedang terlelap tidur. Dan sebenarnya Rian anak yang
penurut sama orang tuanya, dia sangat pandai dalam mengatur waktu
belajar, bermain dan tidur.
“Haloo.. sayang,” jawabku, sebelumnya ia
mengucap kan Halo. “Kamu belum tidur sayang?” Rian bertanya dengan
suara yang agak berat mungkin grogi kalau telponan di malam hari, takut
di dengar sama keluarganya jadi suaranya di sembunyikan dengan kecil.
“Belum,” jawabku. “Kamu sendiri kenapa belum tidur, tumben ih!”
“Ia gak papa kan, aku nelpon kamu!”
“Sayang..Malah aku senang kebetulan aku memang belum bisa tidur.”
“Kamu lagi apa?”
“Ia gak papa kan, aku nelpon kamu!”
“Sayang..Malah aku senang kebetulan aku memang belum bisa tidur.”
“Kamu lagi apa?”
Ah..Pertanyaan yang menggoda, kalau aku
jujur pasti aku di tertawakan. Tetapi hati ku terbesit untuk bercerita
pada kekasih ku Rian. Cuma aku malu sama saja membuka aib Mamahku.
“Em…coba tebak lagi apa?!” ku coba untuk mengajaknya becanda.
“Pasti lagi dengar musik kesukaan kamu sambil tidur-tiduran. Benarkan!”
“Pasti lagi dengar musik kesukaan kamu sambil tidur-tiduran. Benarkan!”
“Em…mau tahu aja kepo nih hehehe,” dia
memang membuat aku tertawa, masalahnya aku yang lebih dulu untuk membuka
canda dan tawa. Rian jarang sekali untuk membuka suara lebih dulu kalau
aku yang lebih dulu membuaka pembicaraan, baru Ia menjawabnya. Entah
apa yang membuatku melemparkan pertanyaan padanya. “Say tebak aku pakai
baju, apa telanjang?”
“Maksud kamu apa sih,” terdengar dengan nada bingung.
“Ia.. Aku sedang pakai baju apa bugil?” lanjutku memberikan pertanyaan menggoda.
“Gila kamu bertanya seperti itu!” Rian sedikit membentak aku.
“Ia.. Aku sedang pakai baju apa bugil?” lanjutku memberikan pertanyaan menggoda.
“Gila kamu bertanya seperti itu!” Rian sedikit membentak aku.
“Ih… ini kan cuma pertanyaan kok! Kalau
gak mau di jawab ya udah gak papa kok!” balasku. Entah apa aku tak
memperdulikan tercengangannya saat aku memberikan pertanyaan seperti
itu. Aku rasakan ada yang beda pada diriku. Disaat aku dalam keadaan
bugil walaupun masih memakai celana sedikit ada rasa ingin memberitahu
kepada Rian bahwa apa yang aku lakukan sangat luar biasa nikmatnya.
Mungkin Rian belum pernah melakukan apa yang aku lakukan. “Ah.. telanjur
Horny aku”
“Sayang…oh..aku lagi bugil nih,” kata ku. “Sstt..sayang tetek ku oh..tetek ku sst..”
“Et dah!.. Say kamu jangan macam-macam dah!” terdengar Dia bertambah bingung. “Kamu membuat aku binggung tau..” katanya lagi.
“Kamu mau nenen gak?” godaku. “he..he..he Kamu lagi apa say?”
“Et dah!.. Say kamu jangan macam-macam dah!” terdengar Dia bertambah bingung. “Kamu membuat aku binggung tau..” katanya lagi.
“Kamu mau nenen gak?” godaku. “he..he..he Kamu lagi apa say?”
“Tau ah,” terdengar agak sinis Rian
menjawab. Namun aku tidak perdulikan. Aku sambung lagi remasan payudara
ku yang sempat tertunda tampa mematikan Hape. Aku sengaja untuk berdesah
di telinga Rian. Lalu aku melepaskan celana ku.
Uh..kini memek ku terlihat, putih gempal
tampa bulu. Aku mengangkang kan kedua kaki ku dan paha terbuka lebar
dan aku angkat kedua kaki ku tinggi-tinggi. Uh…seperti apa aku
melihatnya gak tahu lah, “Sayang…oh…sayang…”
“Gila kamu Shinta! Dia menyentakku.
“Uh…ah..eeght..enak say..enak..sst..”
“Uh…ah..eeght..enak say..enak..sst..”
Aku terus mengusap-gusap dinding
selangkanganku, sambil membayangkan apa yang aku lihat terhadap Mamahku
dengan om-om yang tidak aku kenal namanya. Ssstt…berdenyut oh berdenyut
liang vaginaku uh…ternyata memainkan selangkangan memang enak. Aku
membatin tak memperdulikan Rian, apakah dia masih mendengar desahanku,
apa sudah di putus teleponnya. “Rian…sayang..kemana kamu?” tanya ku.
Aku coba untuk posisi telungkup. Dengan
tangan kanan memegang Hape. Sedangkan tangan kiriku menyelusup kebawah
perut tentu untuk mengobel-ngobel selangkanganku ssst…gila.. enak oh..
enak..Memek kurasakan sedikit basah, entah kenapa terasa lembab aku
rasakan, eegh..bahkan aku mau pipis tapi beda rasanya, tidak seperti
pipis sehari-hari. Pipis ini terasa ada yang mengganjal dan seperti
tertahan di dalam menunggu aba-aba untu di semprotkan begitu rupa.
Sela paha aku renggangkan, sedikit di
angkat bokongku, menambah mudah aku untuk memainkan vaginaku sambil aku
putar-putar dan aku kait seperti ingin mencongkelnya. Mamah uh pantesan
Mamah bergelincang dan membuncah disaat om-om itu memainkan vagina
Mamah. Ssst ternyata enak mah..oh..enak…ssst..
“Haloo….hei…Shinta..halo….!?” Rian
rupanya ingin menyadarkan aku. Aku tak perduli, uh…bahkan aku menantang
Dia untuk mengikuti apa yang aku lakukan. “Sayang..Aku lagi ngobel memek
sayang..oh..memek Shinta jadi enak nih!..”
“Gila.. kamu sungguh gila Shinta..”
Tiba-tiba aku mendengarka suara Rian berdesis. Entah apa yang di lakukan Rian terdengar suaranya agak berdesis.
“Sayang.. Kamu lagi apa? tanya ku.
“Eght…..ah…aku jadi berdiri nih.” katanya.
“Berdiri apanya?” tanyaku lagi.
“Eght…..ah…aku jadi berdiri nih.” katanya.
“Berdiri apanya?” tanyaku lagi.
“Punya ku sayang..oh punya ku jadi
berdiri nih! Ohhh..duh..gara-gara dengar ocehan kamu punya ku jadi
tegang nih!” “Ssst…oh gitu yah.. ucapku pura-pura gak mengerti. Aku
terus memainkan selangkanganku dengan irama cepat.
Aku rasakan sebentar lagi aku akan
pipis. Ya sst mau pipis ssstt..eght…oh sungguh sensasi yang sangat luar
biasa aku rasakan pertama kali aku melakukan seperti ini, apalagi
sekaligus aku dengarkan desahanku kepada kekasihku Rian.
“Sayang.. oh.. aku gaceng sayang.. oh..aku jadi ngocok nih!” terdengar suara polos Rian. Rupanya Dia sedang memainkan penisnya.
“Sayang..uh..uh..uh sayang..ssst aku mau pipis sayang,” kataku
“Ia…say..aku juga oh..kontolku oh panjang banget sayang..ssst..merah nih sst…” ujar Rian kepadaku, bertambah nikmat aku rasakan ketika Ia juga melakukan apa yang aku lakukan.
“Diapakan punya kamu sayang?”
“Eght…aku kocok-kocok say..ssst enak…” kata Rian, “Kalau kamu di apain sayang, sst..memek kamu di apain tuh?…”
“Aku di kobel nih sst enak say..oh..enak…berdenyut say..memek ku berdenyut nih uh uh uh”
“Ia sayang..aku juga enak nih sst..eah…enak eah..sst uhh…sst enak…” desah Rian membuat aku membuncah.
“Sayang..uh..uh..uh sayang..ssst aku mau pipis sayang,” kataku
“Ia…say..aku juga oh..kontolku oh panjang banget sayang..ssst..merah nih sst…” ujar Rian kepadaku, bertambah nikmat aku rasakan ketika Ia juga melakukan apa yang aku lakukan.
“Diapakan punya kamu sayang?”
“Eght…aku kocok-kocok say..ssst enak…” kata Rian, “Kalau kamu di apain sayang, sst..memek kamu di apain tuh?…”
“Aku di kobel nih sst enak say..oh..enak…berdenyut say..memek ku berdenyut nih uh uh uh”
“Ia sayang..aku juga enak nih sst..eah…enak eah..sst uhh…sst enak…” desah Rian membuat aku membuncah.
Benar tak lama kemudian vaginaku terasa
ada yang ingin keluar. Uh seperti mau keluar dengan tertahan untuk di
muncratkan. Eahh….ssst….eah…aku cepatkan kobelanku. Lendir yang melumuri
telapak tanganku, licin rasanya memek ku dengan sangat becek dan basah
aku rasakan uh uh uh.
“Oh……say…oh…aku . aku . aku sst…eeght…aku mau pipis sayang. Aku mau pipis nih.” desisku.
“Sama say…ah.. ah..ah..ah aku juga uh uh uh uh keluarin say, kuarin, ssst”
“Sama say…ah.. ah..ah..ah aku juga uh uh uh uh keluarin say, kuarin, ssst”
Tak lama kemudian.
‘Ciiit..ciiit…ciiit’
Oh…….
“Aku pipis sayang, aku pipis oh..” ujarku dengan suara parau.
“Rian..oh…” panggilku.
“Uh..uh..uh..Aku juga nih uh..uh..uh.. oh..aku ngecret say sst..ah..” ujar Rian. “Tanganku ku jadi lepek nih, ssst.. gila..banjir sayang!”
Oh…….
“Aku pipis sayang, aku pipis oh..” ujarku dengan suara parau.
“Rian..oh…” panggilku.
“Uh..uh..uh..Aku juga nih uh..uh..uh.. oh..aku ngecret say sst..ah..” ujar Rian. “Tanganku ku jadi lepek nih, ssst.. gila..banjir sayang!”
Rian berdesis. Aku pun terkulai dengan
posisi telungkup dan aku turunkan kembali bokong ku. Uh..aku rasakan
kasurku banjir, seperti aku mengompol waktu kecil dulu. Pipis yang
sangat enak. Pipis yang sangat sensual sungguh aku baru pertama kali
menikmati kelakuan seperti ini.
Kini aku mengerti apa yang aku lakukan
itu adalah Masturbasi atau onani. Mungkin kaum pria semua melakukannya
termasuk Rian kekasihku. Semenjak itu aku jadi pecandu Masturbasi. Kalau
pikiranku sedang membuncah aku melakukannya bersama Rian via Phone.
Walaupun Rian sendiri kadang-kadang menasehatiku jangan terlalu
keseringan melakukan berbuatan seperti ini. Katanya.
Tetapi aku punya prinsip dalam hidupku,
aku tak akan melakukan hubungan badan sebelum menikah, walaupun bersama
Rian sendiri kekasihku. Dan juga aku dan Rian masih menjenjang
pendidikan di bangku sekolah. Masih banyak tugas yang harus di kerjakan
untuk mencapai masa depan yang lebih baik.
Dan aku berjanji di dalam hatiku yan
paling dalam. Tidak akan mengikuti jejak Mamah ku sebagai seorang Germo.
Biarlah sebatas Mamahku mendapat gunjingan dari orang-orang terdekat.
Aku tahu Mamahku juga tak mau aku seperti dirinya. Dia ingin aku menjadi
wanita yan baik-baik dan bekerja di tempat yang baik-baik pula, agar
aku dapat menutupi Aib Mamahku sebagai seorang germo.
Aku akui, sampai kapanpun aku akan
meneruskan pendidikanku sampai kuliah, itu permintaan Mamahku, walaupun
uang yang di hasilkan untuk menyekolahkan ku dari hasil menjadi seorang
Germo, bahkan terkadang hasil menjual dirinya sendiri.
Posted By : www.tugupoker.net


Comments
Post a Comment