Agen Poker Online - Gadis Sexy yang Kukenal Minggu Lalu di Sebuah Internet Chat Room
Agen Poker Online - Gadis Sexy yang Kukenal Minggu Lalu di Sebuah Internet Chat Room - Sabtu malam di Singapura, hujan rintik-rintik kecil membasahi jendelaku
saat aku melaju di dalam taxi menembus jalanan kota. Aku kembali menuju
ke tempat Louisa, seorang gadis yang kukenal beberapa minggu lalu di
sebuah internet chat room. Tadi sore aku baru saja membantu mengecat
apartemen barunya dan malam ini ia mengajakku ke diskotik sebagai tanda
terima kasih.
Agen Poker Online - Meskipun badanku terasa sedikit lelah
setelah seharian bermain dengan cat, aku tidak mau melewatkan kesempatan
pergi dengannya. Senyum cerianya kembali menyambutku saat ia membukakan
pintu, ia tampak menarik sekali dengan celana hitam ketat dan kemeja
putih tanpa lengannya.
Ia mengatakan bahwa kami harus menunggu 2
orang teman lagi, jadi ia mempersilakan aku masuk dan menunggu di
dalam. Sambil menunggu, aku lalu berjalan berkeliling dan memeriksa
hasil pekerjaanku seharian tadi, masih kutemukan beberapa tempat yang
belum rata warnanya, maklumlah aku bukan tukang cat professional.
Pukul 11 malam kami sudah berbaur
bersama para pengunjung diskotik lainnya, bergoyang mengikuti musik
sambil meneguk minuman beralkohol. Tetapi malam ini aku lebih banyak
bergoyang-goyang kecil saja sambil duduk di bangku tinggi dan bersandar
ke meja bar, mungkin karena badanku masih terasa lelah, sementara Louisa
berjoget ria di depanku.
Kadang ia menghadapku sambil memeluk
pundakku, dan kadang membelakangiku untuk bergoyang bersama teman-teman
lainnya. Pada saat ia membelakangiku aku bisa menikmati indah goyangan
pinggulnya yang sexy, bahkan kadang kala pantatnya bersentuhan dengan
daerah sensitifku, entah sengaja atau tidak.
Makin lama aku makin terangsang dengan
gesekan pantatnya, dan ditambah pengaruh alkohol, rangsangan itu membuat
kejantananku makin mengeras. Aku yakin Louisa bisa merasakan ada yang
mengganjal di antara selangkanganku saat pantatnya kembali menyentuh
tubuhku berulang kali. Tiba-tiba ia berbalik dan memelukku dengan lebih
erat, kemudian merapatkan seluruh tubuhnya ke tubuhku dan berbisik
pelan..
“Apakah aku membuatmu bergairah?”
“Ya, karena kau sungguh gadis sexy malam
ini” jawabku sambil melingkarkan tanganku ke belakang tubuhnya dan
menariknya makin rapat ke tubuhku. “Kau tahu bahwa kau sudah membuatku
bergairah dari seharian tadi?” bisiknya lagi. Aku hanya menggelengkan
kepala sebagai jawaban.
“Seharian aku melihatmu bekerja dengan
serius sampai berkeringat, kadang aku melihat sedikit pantulan sinar
matahari dari butiran keringat di badanmu, menurutku itu sangat sexy dan
membuatku bergairah”. Aku hanya tersenyum mendengar penjelasannya. Aku
tahu kadang rangsangan bagi kaum wanita tidak bisa dimengerti oleh kaum
pria, tapi baru kali ini aku mendengar hal seperti itu.
Aku memberanikan diri untuk mulai
menciumnya, mulai dari pipi kiri, kanan, kemudian turun ke bibirnya. Ia
pun membalas ciumanku dengan antusias, tak berapa lama French kiss pun
terjadi. Dan beberapa saat ke depan setelah itu kegiatan kami hanya
berciuman dan saling meraba, seolah tak peduli lagi dengan orang-orang
di sekitar kami.
Kami terus saling memberikan rangsangan,
tanganku terus bermain menjelajah ke hampir seluruh bagian tubuhnya,
turun ke dua sisi pantatnya, meraba dan meremas-remas di sana, naik ke
bagian dadanya, kembali meraba dan meremas, dan turun lagi ke bagian
depan selangkangannya untuk sekedar meraba-meraba daerah vitalnya.
Tangan Louisa juga tak kalah sibuk, ia meremas-remas dadaku, sedikit
memilin putingku dan kemudian turun meremas kejantananku dari luar
celana jeans.
Aku sedikit tersentak saat kurasakan
tangannya sudah masuk ke dalam retsleting celanaku dan menyentuh
batangku dari luar celana dalam, ternyata di luar sepengetahuanku ia
sudah berhasil membuka retsletingnya. Aku tak mau kalah lalu berusaha
juga membuka retsletingnya tetapi cukup susah karena ia terus bergerak
berjoget mengikuti irama.
Akhirnya aku harus puas hanya dengan
meraba-raba vaginanya dari luar. Itupun aku sudah dapat merasakan
belahan vaginanya karena celana yang ia kenakan cukup tipis. Pukul 2
pagi kami berempat meninggalkan diskotik dengan 2 taxi terpisah, 2 teman
lain pulang ke rumah masing-masing dengan 1 taxi, sementara taxi kami
langsung menuju ke tempat Louisa.
Dalam perjalanan baru aku mulai berani
meraba buah dadanya dari dalam kemeja meskipun masih tertutup bra. Buah
dadanya tidaklah besar tapi terasa benar-benar pas di tanganku. Louisa
hanya duduk bersandar ke bahuku sambil menutup matanya menikmati
remasanku, kadang ia mendaratkan kecupan-kecupan kecil di pipiku.
Begitu sampai di tempat Louisa kami
langsung kembali berciuman dengan panas di sofa ruang tengah, tangan
kami mulai bekerja berusaha melepaskan semua pakaian yang melekat di
tubuh. Kami sudah begitu bernafsu sampai tidak peduli lagi dengan bau
cat basah dari tembok di sekeliling ruangan.
Setelah aku berhasil melepas kemeja dan
celananya, Louisa bergerak mundur sejenak, kemudian berdiri dengan dua
tangan lurus disatukan di atas kepala sambil mengangkat sebagian
rambutnya, seolah memamerkan kemolekan tubuhnya. Ia sungguh tampak
menggairahkan dengan pose seperti itu, hanya berbalutkan CD mini hitam
berenda dan bra senada.
“Come and get me baby..” katanya menggoda sambil berbalik dan melangkah ke dalam kamar.
Aku melepaskan semua pakaianku, kemudian
menyusulnya ke dalam kamar. Di dalam kamar Louisa sudah duduk di
pinggiran tempat tidur, sebelah tangannya meremas-remas buah dada
kirinya dan sebelah lagi melambai ke arahku.
Aku berlutut di hadapannya dan
mendaratkan ciumanku di daerah dadanya, sebelah tanganku menggantikan
tangannya meremas-remas buah dada kirinya dan sebelah lagi bergerak ke
belakang menjangkau kaitan bra-nya. Sekejap saja bra-nya sudah terlepas,
tanganku bebas bermain di dadanya tanpa halangan lagi.
Ciumanku juga makin panas, menciumi
kedua belah dadanya bergantian kiri dan kanan, dan tak lama lidahku juga
sudah dapat bermain dengan kedua putingnya yang berwarna pink. Hanya
desahan demi desahan yang kudengar keluar dari mulut Louisa.
Puas bermain di dadanya, ciumanku mulai
turun ke daerah perutnya yang ramping. Louisa bergerak mundur kemudian
berbaring di tempat tidur untuk memudahkanku menjelajahi tubuhnya.
Ciuman dan lidahku terus turun sampai ke daerah kewanitaannya, sekilas
melewatkan lidahku di atas gerbangnya yang masih tertutup CD, dan turun
lagi ke bagian dalam kedua pahanya. Bergerak dari kiri ke kanan
bergantian lalu kembali ke gerbangnya, mendaratkan ciuman demi ciuman ke
daerah yang telah lembab itu.
Akhirnya aku menggeser satu sisi CD-nya
ke samping dan melesakkan lidahku ke dalam, menempel pada dinding
vaginanya, diam sebentar untuk membiarkannya merasakan kenikmatan yang
ada, kemudian mulai bergerak perlahan, mengelilingi seluruh daerah
gerbang dan kadang menusuk-nusuk ke dalam liangnya.
Pinggul Louisa bergerak-gerak seolah
menyambut hentakan lidahku di dalam vaginanya. Desahan kenikmatannya
terdengar makin keras. Sesaat kemudian Louisa menahan kepalaku,
mendorongnya makin dalam seraya menaikkan pantatnya, rupanya ia baru
saja mencapai orgasme pertamanya.
Aku menggeser badanku dan rebah di
sampingnya, Louisa langsung mencium bibirku begitu berada dalam
jangkauannya. Tak lama ia menaikkan tubuhnya ke atas tubuhku dan mulai
kembali menciumiku dengan ganasnya. Mulai dari leherku kemudian turun ke
dada, perut dan akhirnya ke batang penisku yang telah keras menanti
sentuhannya sedari tadi.
Pertama ia menciumi kepala penisku,
kemudian turun ke daerah sisinya, turun terus sampai ke kantung dan dua
bijiku. Lidahnya pun ikut bermain, aku merasakan kelembutan lidahnya
bermain dengan kedua bijiku. Kenikmatan itu terus berlanjut saat
lidahnya kembali bergerak naik mengelilingi batangku dan akhirnya
kurasakan seluruh batangku perlahan masuk ke dalam mulutnya yang hangat
dan mulai dikulumnya perlahan. Semakin lama kulumannya semakin cepat dan
bernafsu, kadang diselingi dengan kocokan tangannya pada penisku. Aku
benar-benar terbang dibuai kenikmatan yang diberikannya.
Cukup lama kubiarkan ia bermain di bawah
sana sampai akhirnya aku harus menahannya sebelum aku meledak dengan
semua kenikmatan ini. Ia melepaskan penisku dari mulutnya sambil
tersenyum menggoda. Ia lalu kembali menaikkan tubuhnya ke atasku, atau
lebih tepatnya duduk di atasku.
Perlahan ia menjorokkan tubuhnya ke
depan untuk menciumku sementara sebelah tangannya turun dan menggeser
sisi CD-nya, aku membantunya mengantar kepala penisku menemui gerbang
kewanitaannya. Dan kenikmatan pun kembali kurasakan saat ia bergerak
turun dan batangku perlahan meluncur masuk ke dalam liangnya. Kami
terdiam sesaat untuk menikmati sensasi kenikmatan yang ada, kemudian
kembali berciuman sambil mulai bergerak perlahan.
Gerakan demi gerakan makin menambah
kenikmatan dan sensasi yang ada, makin lama kami pun bergerak makin
cepat dengan desahan nafas yang makin memburu. Tanganku tak tinggal
diam, aku kembali bermain dengan kedua buah dadanya, meremas-remas dan
memilin-milin kedua putingnya.
Beberapa menit dalam posisi ini, Louisa
kembali mengejang sesaat dan kemudian ambruk di atasku, bibir kami
kembali bertemu dan berpagutan. Aku merasakan bibir vaginanya
berkontraksi sejenak menjepit batangku, semakin menambah kenikmatan yang
ada.
Setelah beristirahat beberapa saat aku
memintanya untuk berganti posisi. Louisa pun bergeser dan menunduk
berpegangan pada tepi ranjang sementara aku pindah ke belakangnya untuk
memasukkan penisku dari arah belakang. Ia pun menaikkan pantatnya
sehingga lebih memudahkan penisku untuk mencapai gerbangnya.
Sambil berpengangan pada buah pantatnya
aku perlahan mendorong batang penisku kembali memasuki vaginanya,
kemudian mulai menggerakkan pantatku dengan berirama, mendorong batangku
keluar masuk kewanitaannya. Tak lama Louisa kembali bergerak
mengimbangi gerakanku dalam irama yang sama, batangku pun terdorong
masuk makin dalam.
Gerakan kami pun kembali makin lama
makin cepat, secepat desah nafas kami yang kian memburu. Aku tak bisa
lagi lebih lama menahan orgasmeku, akupun meledak dalam kenikmatan
sambil mencengkeram keras kedua belah pantat Louisa, menariknya makin
mundur seakan menyambut semprotan muatanku di dalam kewanitaannya.
Aku masih menikmati sisa orgasmeku saat
kurasakan pantatnya bergerak mundur dengan tiba-tiba, mendorong penisku
untuk semakin melesak ke dalam, rupanya Louisa juga mencapai orgasmenya
lagi pada saat yang hampir bersamaan.
Louisa pun ambruk ke tempat tidur dan
aku menyusul ambruk di sisinya, kami berciuman untuk beberapa saat
sebelum akhirnya larut dalam keheningan dan tertidur sampai pagi. Kami
terbangun saat handphone Louisa berdering, Louisa menjawab handphonenya
sambil berjalan keluar kamar.
“Sayang, teman-temanku mau datang lagi
untuk membantu meneruskan pekerjaan kemarin, mereka datang sekitar 1 jam
lagi” katanya setelah kembali ke kamar. “Oke, aku mandi dulu baru kita
teruskan pekerjaan kemarin ya” jawabku sambil melangkah menuju kamar
mandi.
“Kamu mau mandi juga sayang?”
“Bersama kamu? Tentu saja” balas Louisa sambil ikut melangkah ke kamar mandi menyusulku.
“Bersama kamu? Tentu saja” balas Louisa sambil ikut melangkah ke kamar mandi menyusulku.
Kami pun bercinta sekali lagi di bawah
siraman shower. Ia bersandar pada dinding dan aku merapatkan tubuhku
pada tubuhnya sambil mengangkat sebelah kakinya. Dalam posisi ini
penisku bisa kembali melesak ke dalam vaginanya tanpa banyak halangan.
Siang itu aku meneruskan pekerjaan
mengecatku pada bagian-bagian dinding tertentu yang kemarin kurang rata.
Louisa dan teman-temannya sibuk membereskan perabotan kembali ke
tempatnya semula, membersihkan noda-noda cat, dan membuang kertas-kertas
koran yang kemarin dipakai sebagai penutup.
Yang berbeda adalah hari ini Louisa
tampak selalu berada di sisiku, beberapa kali aku menangkapnya
memperhatikan diriku, tetapi kali ini aku mengerti maksudnya. Kadang
akupun menghampirinya dan mendaratkan kecupan-kecupan kecil di pipi dan
bibirnya. Tak hanya ciuman, kadang kami juga berlanjut sampai saling
meraba, bahkan kami sempat tertangkap basah oleh temannya saat sudah
mulai saling membuka baju lagi di ruangan dapur.
Hari itu pun berlalu dengan penuh canda
antara kami semua. Dan tidak hanya hari itu, canda tawa Louisa masih
terus menemani hari-hariku sampai akhirnya kami harus berpisah karena
aku harus pulang ke Indonesia.
Posted By : www.tugupoker.net


Comments
Post a Comment