Bandar Poker Terpercaya - Ketertarikanku Pada Betis Tante Susi yang Mulus dan Merangsang
Bandar Poker Terpercaya - Ketertarikanku Pada Betis Tante Susi yang Mulus dan Merangsang - Tante Susi kurang lebih baru 2 minggu bekerja sebagai atasanku sebagai
Accounting Manager. Sebagai atasan baru, ia sering memanggilku ke ruang
kerjanya untuk menjelaskan overbudget yang terjadi pada bulan
sebelumnya, atau untuk menjelaskan laporan mingguan yang kubuat.
Bandar Poker Terpercaya - Aku sendiri sudah termasuk staf senior.
Tapi mungkin karena latar belakang pendidikanku tidak cukup mendukung,
management memutuskan merekrutnya. Ia berasal dari sebuah perusahaan
konsultan keuangan.
Umurnya kutaksir sekitar 25 hingga 30
tahun. Sebagai atasan, sebelumnya kupanggil “Bu”, walau umurku sendiri
10 tahun di atasnya. Tapi atas permintaanya sendiri, seminggu yang lalu,
ia mengatakan lebih suka bila di panggil “ Tante ”.
Sejak saat itu mulai terbina suasana dan
hubungan kerja yang hangat, tidak terlalu formal. Terutama karena
sikapnya yang ramah. Ia sering langsung menyebut namaku, sesekali bila
sedang bersama rekan kerja lainnya, ia menyebut “Pak”.
Dan tanpa kusadari pula, diam-diam aku
merasa nyaman bila memandang wajahnya yang cantik dan lembut menawan. Ia
memang menawan karena sepasang bola matanya sewaktu-waktu dapat
bernar-binar, atau menatap dengan tajam.
Tapi di balik itu semua, ternyata ia
suka mendikte. Mungkin karena telah menduduki jabatan yang cukup tinggi
dalam usia yang relatif muda, kepercayaan dirinyapun cukup tinggi untuk
menyuruh seseorang melaksanakan apa yang diinginkannya.
Tante Susi selalu berpakaian formal. Ia
selalu mengenakan blus dan rok hitam yang agak menggantung sedikit di
atas lutut. Bila sedang berada di ruang kerjanya, diam-diam aku pun
sering memandang lekukan pinggulnya ketika ia bangkit mengambil file
dari rak folder di belakangnya.
Walau bagian bawah roknya lebar, tetapi
aku dapat melihat pinggul yang samar-samar tercetak dari baliknya.
Sangat menarik, tidak besar tetapi jelas bentuknya membongkah, memaksa
mata lelaki menerawang untuk mereka-reka keindahannya.
Di dalam ruang kerjanya, persis di
samping meja kerjanya, terdapat seperangkat sofa yang sering
dipergunakannya menerima tamu-tamu perusahaan. Sebagai Accounting
Manager, tentu selalu ada pembicaraan-pembicaraan ‘privacy’ yang lebih
nyaman dilakukan di ruang kerjanya daripada di ruang rapat.
Aku merasa beruntung bila dipanggil
Tante Susi untuk membahas cash flow keuangan di kursi sofa itu. Aku
selalu duduk persis di depannya. Dan bila kami terlibat dalam
pembicaraan yang cukup serius, ia tidak menyadari roknya yang agak
tersingkap.
Di situlah keberuntunganku. Aku dapat
melirik sebagian kulit paha yang berwarna gading. Kadang-kadang lututnya
agak sedikit terbuka sehingga aku berusaha untuk mengintip ujung
pahanya. Tapi mataku selalu terbentur dalam kegelapan.
Andai saja roknya tersingkap lebih
tinggi dan kedua lututnya lebih terbuka, tentu akan dapat kupastikan
apakah bulu-bulu halus yang tumbuh di lengannya juga tumbuh di sepanjang
paha hingga ke pangkalnya. Bila kedua lututnya rapat kembali, lirikanku
berpindah ke betisnya. Betis yang indah dan bersih. Terawat. Ketika aku
terlena menatap kakinya, tiba-tiba aku dikejutkan oleh pertanyaan Tante
Susi..
“Theo, aku merasa bahwa kau sering
melirik ke arah betisku. Apakah dugaanku salah?” Aku terdiam sejenak
sambil tersenyum untuk menyembunyikan jantungku yang tiba-tiba berdebar.
“Theo, salahkah dugaanku?”
“Hmm.., ya, benar Tan,” jawabku mengaku, jujur. Tante Susi tersenyum sambil menatap mataku.
“Hmm.., ya, benar Tan,” jawabku mengaku, jujur. Tante Susi tersenyum sambil menatap mataku.
“Mengapa?”
Aku membisu. Terasa sangat berat
menjawab pertanyaan sederhana itu. Tapi ketika menengadah menatap
wajahnya, kulihat bola matanya berbinar-binar menunggu jawabanku.
“Saya suka kaki Tante. Suka betis Tante. Indah. Dan..,” setelah menarik nafas panjang, kukatakan alasan sebenarnya.
“Saya juga sering menduga-duga, apakah kaki Tante juga ditumbuhi bulu-bulu.”
“Persis seperti yang kuduga, kau pasti berkata jujur, apa adanya,” kata Tante Susi sambil sedikit mendorong kursi rodanya.
“Persis seperti yang kuduga, kau pasti berkata jujur, apa adanya,” kata Tante Susi sambil sedikit mendorong kursi rodanya.
“Agar kau tidak penasaran menduga-duga, bagaimana kalau kuberi kesempatan memeriksanya sendiri?”
“Sebuah kehormatan besar untukku,”
jawabku sambil membungkukan kepala, sengaja sedikit bercanda untuk
mencairkan pembicaraan yang kaku itu.
“Kompensasinya apa?”
“Sebagai rasa hormat dan tanda terima kasih, akan kuberikan sebuah ciuman.”
“Bagus, aku suka. Bagian mana yang akan kau cium?”
“Betis yang indah itu!”
“Hanya sebuah ciuman?”
“Seribu kali pun aku bersedia.”
“Sebagai rasa hormat dan tanda terima kasih, akan kuberikan sebuah ciuman.”
“Bagus, aku suka. Bagian mana yang akan kau cium?”
“Betis yang indah itu!”
“Hanya sebuah ciuman?”
“Seribu kali pun aku bersedia.”
Tante Susi tersenyum manis dikulum. Ia berusaha manahan tawanya.
“Dan aku yang menentukan di bagian mana saja yang harus kau cium, OK?”
“Deal, my lady!”
“I like it!” kata Tante Susi sambil bangkit dari sofa.
“Deal, my lady!”
“I like it!” kata Tante Susi sambil bangkit dari sofa.
Ia melangkah ke mejanya lalu menarik
kursinya hingga ke luar dari kolong mejanya yang besar. Setelah
menghempaskan pinggulnya di atas kursi kursi kerjanya yang besar dan
empuk itu, Tante Susi tersenyum. Matanya berbinar-binar seolah
menaburkan sejuta pesona birahi. Pesona yang membutuhkan sanjungan dan
pujaan.
“Periksalah, Theo. Berlutut di depanku!” Aku membisu. Terpana mendengar perintahnya.
“Kau tidak ingin memeriksanya, Theo?” tanya Tante Susi sambil sedikit merenggangkan kedua lututnya.
Sejenak, aku berusaha meredakan
debar-debar jantungku. Aku belum pernah diperintah seperti itu. Apalagi
diperintah untuk berlutut oleh seorang wanita. Bibir Tante Susi masih
tetap tersenyum ketika ia lebih merenggangkan kedua lututnya.
“Theo, kau tahu warna apa yang
tersembunyi di pangkal pahaku?” Aku menggeleng lemah, seolah ada
kekuatan yang tiba-tiba merampas sendi-sendi di sekujur tubuhku.
Tatapanku terpaku ke dalam keremangan di
antara celah lutut Tante Susi yang meregang. Akhirnya aku bangkit
menghampirinya, dan berlutut di depannya. Sebelah lututku menyentuh
karpet. Wajahku menengadah. Tante Susi masih tersenyum. Telapak
tangannya mengusap pipiku beberapa kali, lalu berpindah ke rambutku, dan
sedikit menekan kepalaku agar menunduk ke arah kakinya.
“Ingin tahu warnanya?” Aku mengangguk tak berdaya.
“Kunci dulu pintu itu,” katanya sambil
menunjuk pintu ruang kerjanya. Dan dengan patuh aku melaksanakan
perintahnya, kemudian berlutut kembali di depannya.
Tante Susi menopangkan kaki kanannya di
atas kaki kirinya. Gerakannya lambat seperti bermalas-malasan. Pada saat
itulah aku mendapat kesempatan memandang hingga ke pangkal pahanya. Dan
kali ini tatapanku terbentur pada secarik kain tipis berwarna putih.
Pasti ia memakai G-String, kataku dalam
hati. Sebelum paha kanannya benar-benar tertopang di atas paha kirinya,
aku masih sempat melihat bulu-bulu ikal yang menyembul dari sisi-sisi
celana dalamnya. Segitiga tipis yang hanya selebar kira-kira dua jari
itu terlalu kecil untuk menyembunyikan semua bulu yang mengitari pangkal
pahanya. Bahkan sempat kulirik bayangan lipatan bibir di balik segitiga
tipis itu.
“Suka?” Aku mengangguk sambil mengangkat kaki kiri Tante Susi ke atas lututku.
Ujung hak sepatunya terasa agak menusuk.
Kulepaskan klip tali sepatunya. Lalu aku menengadah. Sambil melepaskan
sepatu itu. Tante Susi mengangguk. Tak ada komentar penolakan. Aku
menunduk kembali. Mengelus-elus pergelangan kakinya. Kakinya mulus tanpa
cacat. Ternyata betisnya yang berwarna gading itu mulus tanpa bulu
halus.
Tapi di bagian atas lutut kulihat
sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus yang agak kehitaman. Sangat kontras
dengan warna kulitnya. Aku terpana. Mungkinkah mulai dari atas lutut
hingga.., hingga.. Aah, aku menghembuskan nafas. Rongga dadaku mulai
terasa sesak. Wajahku sangat dekat dengan lututnya. Hembusan nafasku
ternyata membuat bulu-bulu itu meremang.
“Indah sekali,” kataku sambil mengelus-elus betisnya. Kenyal.
“Suka, Theo?” Aku mengangguk.
“Tunjukkan bahwa kau suka. Tunjukkan bahwa betisku indah!”
“Suka, Theo?” Aku mengangguk.
“Tunjukkan bahwa kau suka. Tunjukkan bahwa betisku indah!”
Aku mengangkat kaki Tante Susi dari
lututku. Sambil tetap mengelus betisnya, kuluruskan kaki yang menekuk
itu. Aku sedikit membungkuk agar dapat mengecup pergelangan kakinya.
Pada kecupan yang kedua, aku menjulurkan lidah agar dapat mengecup
sambil menjilat, mencicipi kaki indah itu. Akibat kecupanku, Tante Susi
menurunkan paha kanan dari paha kirinya.
Dan tak sengaja, kembali mataku
terpesona melihat bagian dalam kanannya. Karena ingin melihat lebih
jelas, kugigit bagian bawah roknya lalu menggerakkan kepalaku ke arah
perutnya. Ketika melepaskan gigitanku, kudengar tawa tertahan, lalu
ujung jari-jari tangan Tante Susi mengangkat daguku. Aku menengadah.
“Kurang jelas, Theo?” Aku mengangguk.
Tante Susi tersenyum nakal sambil
mengusap-usap rambutku. Lalu telapak tangannya menekan bagian belakang
kepalaku sehingga aku menunduk kembali. Di depan mataku kini terpampang
keindahan pahanya. Tak pernah aku melihat paha semulus dan seindah itu.
Bagian atas pahanya ditumbuhi bulu-bulu
halus kehitaman. Bagian dalamnya juga ditumbuhi tetapi tidak selebat
bagian atasnya, dan warna kehitaman itu agak memudar. Sangat kontras
dengan pahanya yang berwarna gading.
Aku merinding. Karena ingin melihat paha
itu lebih utuh, kuangkat kaki kanannya lebih tinggi lagi sambil
mengecup bagian dalam lututnya. Dan paha itu semakin jelas. Menawan. Di
paha bagian belakang mulus tanpa bulu. Karena gemas, kukecup berulang
kali. Kecupan-kecupanku semakin lama semakin tinggi. Dan ketika hanya
berjarak kira-kira selebar telapak tangan dari pangkal pahanya,
kecupan-kecupanku berubah menjadi ciuman yang panas dan basah.
Sekarang hidungku sangat dekat dengan
segitiga yang menutupi pangkal pahanya. Karena sangat dekat, walau
tersembunyi, dengan jelas dapat kulihat bayangan bibir kewanitaannya.
Ada segaris kebasahan terselip membayang di bagian tengah segitiga itu.
Kebasahan yang dikelilingi rambut-rambut ikal yang menyelip dari kiri
kanan G-stringnya.
Sambil menatap pesona di depan mataku,
aku menarik nafas dalam-dalam. Tercium aroma segar yang membuatku
menjadi semakin tak berdaya. Aroma yang memaksaku terperangkap di antara
kedua belah paha Tante Susi. Ingin kusergap aroma itu dan menjilat
kemulusannya.
Tante Susi menghempaskan kepalanya ke
sandaran kursi. Menarik nafas berulang kali. Sambil mengusap-usap
rambutku, diangkatnya kaki kanannya sehingga roknya semakin tersingkap
hingga tertahan di atas pangkal paha.
“Suka Theo?”
“Hmm.. Hmm..!” jawabku bergumam sambil memindahkan ciuman ke betis dan lutut kirinya.
“Hmm.. Hmm..!” jawabku bergumam sambil memindahkan ciuman ke betis dan lutut kirinya.
Lalu kuraih pergelangan kaki kanannya,
dan meletakkan telapaknya di pundakku. Kucium lipatan di belakang
lututnya. Tante Susi menggelinjang sambil menarik rambutku dengan manja.
Lalu ketika ciuman-ciumanku merambat ke paha bagian dalam dan semakin
lama semakin mendekati pangkal pahanya, terasa tarikan di rambutku
semakin keras. Dan ketika bibirku mulai mengulum rambut-rambut ikal yang
menyembul dari balik G-stringnya, tiba-tiba Tante Susi mendorong
kepalaku.
Aku tertegun. Menengadah. Kami saling
menatap. Tak lama kemudian, sambil tersenyum menggoda, Tante Susi
menarik telapak kakinya dari pundakku. Ia lalu menekuk dan meletakkan
telapak kaki kanannya di permukaan kursi. Pose yang sangat memabukkan.
Sebelah kaki menekuk dan terbuka lebar di atas kursi, dan yang sebelah
lagi menjuntai ke karpet.
“Suka Theo?”
“Hmm.. Hmm..!”
“Jawab!”
“Suka sekali!”
“Hmm.. Hmm..!”
“Jawab!”
“Suka sekali!”
Pemandangan itu tak lama. Tiba-tiba saja Tante Susi merapatkan kedua pahanya sambil menarik rambutku.
“Nanti ada yang melihat bayangan kita dari balik kaca. Masuk ke dalam, Theo,” katanya sambil menunjuk kolong mejanya.
Aku terkesima. Tante Susi merenggut
bagian belakang kepalaku, dan menariknya perlahan. Aku tak berdaya.
Tarikan perlahan itu tak mampu kutolak. Lalu Tante Susi tiba-tiba
membuka ke dua pahanya dan mendaratkan mulut dan hidungku di pangkal
paha itu.
Kebasahan yang terselip di antara kedua
bibir kewanitaan terlihat semakin jelas. Semakin basah. Dan di situlah
hidungku mendarat. Aku menarik nafas untuk menghirup aroma yang sangat
menyegarkan. Aroma yang sedikit seperti daun pandan tetapi mampu membius
saraf-saraf di rongga kepala.
“Suka Theo?”
“Hmm.. Hmm..!”
“Sekarang masuk ke dalam!” ulangnya sambil menunjuk kolong mejanya.
“Hmm.. Hmm..!”
“Sekarang masuk ke dalam!” ulangnya sambil menunjuk kolong mejanya.
Aku merangkak ke kolong mejanya. Aku
sudah tak dapat berpikir waras. Tak peduli dengan segala kegilaan yang
sedang terjadi. Tak peduli dengan etika, dengan norma-norma bercinta,
dengan sakral dalam percintaan.
Aku hanya peduli dengan kedua belah paha
mulus yang akan menjepit leherku, jari-jari tangan lentik yang akan
menjambak rambutku, telapak tangan yang akan menekan bagian belakang
kepalaku, aroma semerbak yang akan menerobos hidung dan memenuhi rongga
dadaku, kelembutan dan kehangatan dua buah bibir kewanitaan yang
menjepit lidahku, dan tetes-tetes birahi dari bibir kewanitaan yang
harus kujilat berulang kali agar akhirnya dihadiahi segumpal lendir
orgasme yang sudah sangat ingin kucucipi.
Di kolong meja, Tante Susi membuka kedua
belah pahanya lebar-lebar. Aku mengulurkan tangan untuk meraba celah
basah di antara pahanya. Tapi ia menepis tanganku.
“Hanya lidah, Theo! OK?”
Aku mengangguk. Dan dengan cepat
membenamkan wajahku di G-string yang menutupi pangkal pahanya.
Menggosok-gosokkan hidungku sambil menghirup aroma pandan itu
sedalam-dalamnya. Tante Susi terkejut sejenak, lalu ia tertawa manja
sambil mengusap-usap rambutku.
“Rupanya kau sudah tidak sabar ya, Theo?” katanya sambil melingkarkan pahanya di leherku.
“Hm..!”
“Haus?”
“Hm!”
“Jawab, Theo!” katanya sambil menyelipkan tangannya untuk mengangkat daguku. Aku menengadah.
“Haus?”
“Hm!”
“Jawab, Theo!” katanya sambil menyelipkan tangannya untuk mengangkat daguku. Aku menengadah.
“Haus!” jawabku singkat.
Tangan Tante Susi bergerak melepaskan
tali G-string yang terikat di kiri dan kanan pinggulnya. Aku terpana
menatap keindahan dua buah bibir berwarna merah yang basah mengkilap.
Sepasang bibir yang di bagian atasnya dihiasi tonjolan daging pembungkus
clit yang berwarna pink. Aku termangu menatap keindahan yang terpampang
persis di depan mataku.
“Jangan diam saja. Theo!” kata Tante Susi sambil menekan bagian belakang kepalaku.
“Hirup aromanya!” sambungnya sambil menekan kepalaku sehingga hidungku terselip di antara bibir kewanitaannya.
Pahanya menjepit leherku sehingga aku
tak dapat bergerak. Bibirku terjepit dan tertekan di antara dubur dan
bagian bawah vaginanya. Karena harus bernafas, aku tak mempunyai pilihan
kecuali menghirup udara dari celah bibir kewanitaannya. Hanya sedikit
udara yang dapat kuhirup, sesak tetapi menyenangkan. Aku menghunjamkan
hidungku lebih dalam lagi. Tante Susi terpekik.
Pinggulnya diangkat dan
digosok-gosokkannya dengan liar hingga hidungku basah berlumuran
tetes-tetes birahi yang mulai mengalir dari sumbernya. Aku mendengus.
Tante Susi menggelinjang dan kembali mengangkat pinggulnya. Kuhirup
aroma kewanitaannya dalam-dalam, seolah vaginanya adalah nafas
kehidupannku.
“Fantastis!” kata Tante Susi sambil
mendorong kepalaku dengan lembut. Aku menengadah. Ia tersenyum menatap
hidungku yang telah licin dan basah.
“Enak ‘kan?” sambungnya sambil membelai ujung hidungku.
“Segar!” Tante Susi tertawa kecil.
“Segar!” Tante Susi tertawa kecil.
“Kau pandai memanjakanku, Theo.
Sekarang, kecup, jilat, dan hisap sepuas-puasmu. Tunjukkan bahwa kau
memuja ini,” katanya sambil menyibakkan rambut-rambut ikal yang sebagian
menutupi bibir kewanitaannya.
“Jilat dan hisap dengan rakus. Tunjukkan
bahwa kau memujanya. Tunjukkan rasa hausmu! Jangan ada setetes pun yang
tersisa! Tunjukkan dengan rakus seolah ini adalah kesempatan pertama
dan yang terakhir bagimu!”
Aku terpengaruh dengan kata-katanya. Aku
tak peduli walaupun ada nada perintah di setiap kalimat yang
diucapkannya. Aku memang merasa sangat lapar dan haus untuk mereguk
kelembutan dan kehangatan vaginanya. Kerongkonganku terasa panas dan
kering.
Aku merasa benar-benar haus dan ingin
segera mendapatkan segumpal lendir yang akan dihadiahkannya untuk
membasahi kerongkongannku. Lalu bibir kewanitaannya kukulum dan kuhisap
agar semua kebasahan yang melekat di situ mengalir ke kerongkonganku.
Kedua bibir kewanitaannya kuhisap-hisap bergantian.
Kepala Tante Susi terkulai di sandaran
kursinya. Kaki kanannya melingkar menjepit leherku. Telapak kaki kirinya
menginjak bahuku. Pinggulnya terangkat dan terhempas di kursi berulang
kali. Sesekali pinggul itu berputar mengejar lidahku yang bergerak liar
di dinding kewanitaannya. Ia merintih setiap kali lidahku menjilat
clitnya. Nafasnya mengebu. Kadang-kadang ia memekik sambil menjambak
rambutku.
“Ooh, ooh, Theo! Theoo!” Dan ketika
clitnya kujepit di antara bibirku, lalu kuhisap dan permainkan dengan
ujung lidahku, Tante Susi merintih menyebut-nyebut namaku..
“Theo, nikmat sekali sayang.. Theoo! Ooh.. Theoo!”
Ia menjadi liar. Telapak kakinya
menghentak-hentak di bahu dan kepalaku. Paha kanannya sudah tidak
melilit leherku. Kaki itu sekarang diangkat dan tertekuk di kursinya.
Mengangkang. Telapaknya menginjak kursi. Sebagai gantinya, kedua tangan
Tante Susi menjambak rambutku. Menekan dan menggerak-gerakkan kepalaku
sekehendak hatinya.
“Theo, julurkan lidahmuu! Hisap! Hisaap!”
Aku menjulurkan lidah sedalam-dalamnya.
Membenamkan wajahku di vaginanya. Dan mulai kurasakan kedutan-kedutan di
bibir vaginanya, kedutan yang menghisap lidahku, mengundang agar masuk
lebih dalam. Beberapa detik kemudian, lendir mulai terasa di ujung
lidahku.
Kuhisap seluruh vaginanya. Aku tak ingin
ada setetes pun yang terbuang. Inilah hadiah yang kutunggu-tunggu.
Hadiah yang dapat menyejukkan kerongkonganku yang kering. Kedua bibirku
kubenamkan sedalam-dalamnya agar dapat langsung menghisap dari bibir
vaginanya yang mungil.
“Theoo! Hisap Theoo!”
Aku tak tahu apakah rintihan Tante Susi
dapat terdengar dari luar ruang kerjanya. Seandainya rintihan itu
terdengar pun, aku tak peduli. Aku hanya peduli dengan lendir yang dapat
kuhisap dan kutelan. Lendir yang hanya segumpal kecil, hangat, kecut,
yang mengalir membasahi kerongkonganku. Lendir yang langsung ditumpahkan
dari vagina Tante Susi, dari pinggul yang terangkat agar lidahku
terhunjam dalam.
“Oh, fantastis,” gumam Tante Susi sambil menghenyakkan kembali pinggulnya ke atas kursinya.
Ia menunduk dan mengusap-usap kedua
belah pipiku. Tak lama kemudian, jari tangannya menengadahkan daguku.
Sejenak aku berhenti menjilat-jilat sisa-sisa cairan di permukaan
kewanitaannya.
“Aku puas sekali, Theo,” katanya. Kami
saling menatap. Matanya berbinar-binar. Sayu. Ada kelembutan yang
memancar dari bola matanya yang menatap sendu.
“Theo.”
“Hm..”
“Tatap mataku, Theo.” Aku menatap bola matanya.
“Jilat cairan yang tersisa sampai bersih”
“Hm..” jawabku sambil mulai menjilati vaginanya.
“Hm..”
“Tatap mataku, Theo.” Aku menatap bola matanya.
“Jilat cairan yang tersisa sampai bersih”
“Hm..” jawabku sambil mulai menjilati vaginanya.
“Jangan menunduk, Theo. Jilat sambil menatap mataku. Aku ingin melihat erotisme di bola matamu ketika menjilat-jilat vaginaku.”
Aku menengadah untuk menatap matanya.
Sambil melingkarkan kedua lenganku di pinggulnya, aku mulai menjilat dan
menghisap kembali cairan lendir yang tersisa di lipatan-lipatan bibir
kewanitaannya.
“Kau memujaku, Theo?”
“Ya, aku memuja betismu, pahamu, dan di
atas segalanya, yang ini.., muuah!” jawabku sambil mencium kewanitaannya
dengan mesra sepenuh hati.
Tante Susi tertawa manja sambil mengusap-usap rambutku.
Posted By : www.tugupoker.net


Comments
Post a Comment