Bandar Poker Online - Tante Lusi yang Berkata Jujur Ingin Berhubungan Seks Denganku
Bandar Poker Online - Tante Lusi yang Berkata Jujur Ingin Berhubungan Seks Denganku - Saya adalah seorang pria yang berusia 23 tahun dan saya baru saja
selesai kontrakku dengan salah satu perusahaan pelayaran luar negeri.
Sekarang saya adalah pengangguran sebab saya tidak punya rencana untuk
kembali berlayar setelah 2 tahun lamanya.
Bandar Poker Online - Cerita ngewe ini berawal dari seringnya
saya pergi bolak-balik ke rumah sakit untuk menjaga papa saya di rumah
sakit swasta di daerah, JakTim. Pada hari Minggu siang, saya turun ke
bawah tempat merokok di rumah sakit tersebut,
namun di saat saya menikmati rokokku
itu, di dekat tempat dudukku ada seorang wanita setengah baya yang
kira-kira berumur 30 tahun. Ia tampak sibuk sekali menelepon sana-sini
dengan hp-nya untuk mencari jasa derek mobil untuk mobilnya.
Entah karena saya merasa terganggu atau
ada keinginan untuk membantu wanita itu, akhirnya saya beranikan diri
untuk menawarkan jasa saya sebab siapa tahu kerusakannya masih sepele.
Setelah mengumpulkan semua keberanian untuk menawarkan jasa saya
akhirnya meluncur juga dari mulutku untuk membantu dia.
“Eee.. maaf Tante, kalo saya boleh tau, mobil tante rusak?” tanya saya dengan ragu-ragu.
“Iya Dik”, jawabnya singkat sambil tetap menghubungi seseorang dengan handphone-nya.
“Eee.. kalo boleh tau, Tante.. mobil Tante apa merk-nya?” tanya saya lagi.
“Honda, Honda Maestro”, jawabnya dan kali ini dia melihat saya.
“Iya Dik”, jawabnya singkat sambil tetap menghubungi seseorang dengan handphone-nya.
“Eee.. kalo boleh tau, Tante.. mobil Tante apa merk-nya?” tanya saya lagi.
“Honda, Honda Maestro”, jawabnya dan kali ini dia melihat saya.
“Kalo boleh, saya coba bantu Tante buat
benerin mobilnya Tante, sebab siapa tau saya bisa, Tante!” kata saya
menawarkan pertolongan.
“Eee.. boleh-boleh.. Ayo ke mobil saya yuk”, pintanya.
Setelah itu kita berdua jalan
meninggalkan tempat itu untuk menuju ke mobil wanita itu, yang ternyata
tidak jauh dari tempat merokok. Setelah saya dibukakan pintu, saya coba
starter mobilnya tapi hasilnya nihil.
Dengan kasus seperti ini, saya katakan
pada wanita itu bahwa ada kemungkinan bahwa ini masalah dinamonya dan
saya sarankan untuk mendorong mobilnya sebab tidak ada masalah sehingga
dia bisa tiba di rumahnya atau bengkel sebelum kesorean dan tidak perlu
memanggil jasa derek mobil karena biayanya yang mahal. Dan sepertinya
dia berpikir sejenak dan dia setuju dengan saran saya, hingga akhirnya
saya memanggil salah satu satpam yang saya temui untuk meminta
pertolongannya untuk mendorong mobil.
Agh, akhirnya mobil wanita itu nyala
juga dan seperti dugaanku bahwa masalahnya hanya masalah dinamo. Dengan
posisi wanita itu di dalam mobil dan saya di luar sambil memperhatikan
dia untuk meninggalkan saya,
tiba-tiba dia memanggil saya dengan
membuka kaca jendelanya dan mengucapkan terima kasih kepada saya sambil
memberikan uang 2 lembar seratus ribu tapi saya tolak sebab
pertolonganku adalah dari hati nuraniku bukan untuk meminta balasan
namun dia tetap memaksa saya dan akhirnya saya ambil satu saja dan
satunya lagi tetap di tangannya sambil mengucapkan bahwa itu saja sudah
lebih dari cukup.
Akhirnya dia mengalah karena saya tetap
bertahan untuk tidak mengambil sisanya tapi dia membuka tasnya dan
mengambil kartu namanya dan diberikan buat saya sambil menitip pesan
bahwa kalau ada sesuatu atau saya sedang senggang diminta menghubungi
dia, dan saya terima kartu namanya.
Sebelum pergi, dia menanyakan nama saya
sambil menyodorkan tangannya dan saya jawab bahwa nama saya Willi dan
dia mengatakan bahwa namanya Lusi. Dan akhirnya ia pergi dengan mobilnya
dan saya tetap berdiri melihat mobilnya hingga hilang ditelan sebuah
tikungan ke kanan.
2 hari setelah kejadian itu, papa saya
meninggal dan saya sibuk menyelasaikan segala urusan yang berkaitan
dengan papa saya mulai dari rumah sakit, rumah duka, dikremasi hingga
jadinya Akte Kematian.
Setelah semuanya selesai dan saya
kembali pada kehidupanku yang hanya menghabiskan hari demi hari saya
dengan jalan-jalan dengan teman-teman saya ke sana ke mari. Hingga pada
suatu hari, saya teringat kembali dengan wanita yang saya kenal di rumah
sakit dan saya cari kartu namanya dan akhirnya ketemu. Akhirnya saya
hubungi Handphone-nya walaupun di kartu nama itu ada nomor telepon rumah
dan kantornya.
“Hallooo?!” terdengar jawaban seorang wanita dari sana.
“Dengan Lusi-nya ada? ini Willi”, jawab saya lengkap.
“Dengan Lusi-nya ada? ini Willi”, jawab saya lengkap.
Sejenak terdiam dan terdengar, “Iya ini
Lusi sendiri dan saya ingat kalo kamu yang nolong saya waktu saya di
rumah sakit itu khan?” tanyanya yang terkesan menebak.
“Iya.. ini saya Willi yang waktu itu”, jawab saya.
“Eee.. gimana sekarang kamu, Will?” tanyanya.
“Lagi senggang nich”, jawab saya.
“Eee.. gimana sekarang kamu, Will?” tanyanya.
“Lagi senggang nich”, jawab saya.
“Kayaknya untuk sekarang ini saya nggak
bisa lama-lama ditelepon.. bagaimana kalau malam ini kita ketemu, saya
mau traktir kamu makan malem, apa bisa?” sambungnya.
“Iya bisa. Saya nggak ada acara”, jawabku singkat.
“Oke kalo gitu kita ketemu di restaurant
Tony’s Romas deket Ratu Plaza aja jam 7 malam ini, Oke? kamu tau khan?”
jawabnya menjelaskan.
“Iya saya tau, Oke dech sampe nanti”, jawabku.
Seperti janjiku dengan Lusi, saya datang
ke Restaurant Tony’s Romas dan saya tiba 10 menit lebih awal. Dan pilih
tempat duduk yang kira-kira saya bisa lihat kalau ada orang yang
datang. Tepat jam 19.00, Lusi datang, dan saya sangat terpana dengan
pakaiannya yang begitu seksi.
Dia mengenakan baju terusan warna merah
dengan strip warna biru dengan model tali yang menggantung pada lehernya
sehingga tampak dengan jelas punggungnya dan berarti dia tidak memakai
BH dan rambutnya yang sepanjang bahu dia ikat ke atas sedang rambut
depannya dibuat poni rata dengan alis matanya tapi dengan tekukan ke
atas. Dadanya yang lumayan besar dan bulat seakan-akan mau keluar dari
baju yang dia pakai.
Wow, saya begitu terpana dengan apa yang
saya lihat, tapi saya tidak terlalu terpana sebab saya harus
memberitahu bahwa saya ada.
Saya mengangkat tangan mengisyaratkan
siapa tahu dia melihat. Ternyata ada seorang waiter yang melihat dan
sepertinya dia tahu bahwa saya memanggil Lusi, dan waiter itu pun
mengatakan sesuatu pada Lusi lalu menunjuk pada arahku.
“Hi.. udah lama?” katanya membuka pembicaraan sambil duduk dan merapikan baju terusannya sepanjang mata kaki.
“Belum”, jawabku singkat.
“Eee.. kamu udah pesen? kalo belum, kamu mau pesen apa?” tanya dia.
“Eee.. kamu udah pesen? kalo belum, kamu mau pesen apa?” tanya dia.
“Belum, saya belum pesen apa-apa”,jawabku sambil membuka buku menu.
Setelah kita berdua memesan makanan, dan
sambil menunggu makanan kami berbincang-bincang sana-sini dan akhirnya
dia menanyakan bahwa mengapa saya ada di rumah sakit saat itu, dan saya
jelaskan dan saya katakan pula bahwa papa saya sudah meninggal dan dia
tampak kaget dan minta maaf kalau dia membuat saya sedih.
Acara makan malam saya bersama Lusi
berlangsung lancar dan kita berdua mau pulang, dia memaksa mengantar
saya pulang sebab selain hemat biaya lagipula ternyata rumah Lusi searah
dengan saya, dia tinggal di daerah Kelapa Gading dan saya yang menyetir
dengan ijin dia terlebih dahulu.
Dalam perjalanan, tanpa saya tanya, dia
mengatakan bahwa dia sudah cerai dengan suaminya sejak anaknya berusia 6
bulan dengan alasan mantan suaminya itu punya simpanan.
Saat dia menceritakan itu, saya tidak
tahu apa yang harus saya lakukan sebab rasanya kalau diterus-teruskan
mungkin akan membuat dia sedih dengan pengalaman pahitnya, hingga pada
akhirnya mengatakan bahwa sebaiknya tidak perlu diteruskan sebab mungkin
akan membuat dia ingat dengan masa lalunya itu tapi dia mengatakan
bahwa dia ingin saya tahu dengan siapa yang dia kenal (maksudnya dia
sendiri). Dari ceritanya, dapat saya simpulkan bahwa dia wanita kesepian
yang lumayan bagus dengan kariernya.
Setelah dia selesai menceritakan
semuanya, kita terdiam sejenak dan hanya tembang-tembang Ebiet G Ade
yang kita dengar. Tapi dengan tiba-tiba dan membuat saya kaget, Lusi
mendekatkan kepalanya dan menyandar diantara bahu dan ujung jok mobil.
Saat itu saya tidak tahu harus
bagaimana, jadi saya diam saja. Namun yang menambah kurang
konsentrasinya saya dengan jalan adalah, setiap saya mengganti
persneling, lengan saya bersentuhan dengan dadanya yang lumayan besar
dan ini tidak mengubah cara dia duduk, dia tetap dengan posisinya.
Setiap kali bersentuhan saya minta maaf
padanya dan hati serta kemaluanku tegang. Rasanya saya teramat salah
tingkah sebab selain menggangu pikiran saya, saya pun menikmati apa yang
terjadi. Sampai pada akhirnya Lusi memecahkan kesepian pada saat itu
dengan mengatakan, “Will, kamu sudah pernah bercinta?” Wah, rasanya
seperti disambar geledek dengar pertanyaan Lusi.
Setelah terdiam sebentar karena kaget,
saya jawab pertanyaannya itu dengan jujur bahwa saya sudah pernah
bercinta dan saya jelaskan pula bahwa itu dengan pacar saya. Lalu dia
bilang, “Eee.. kayaknya kamu sekarang sudah terangsang ya dengan
posisiku kayak gini ini?” sambil tangan kirinya dengan cepat meraba
daerah kemaluan saya.
Saya benar-benar terhenyak dengan sikap
Lusi dan saya biarkan tangan kirinya meraba-raba dengan halusnya
kemaluan saya dari celana panjang saya sebab selain inilah yang yang
inginkan, saya pun lagi-lagi dalam posisi sulit.
Saya tidak tahu berapa lama dia
meraba-raba kemaluan saya hingga pada akhirnya dia membuka reitsleting
celana saya dan makin berani sehingga sekarang dia meraba-rabanya di
celana dalam saya. Sambil meraba-raba dia bilang (dengan nada nakal dan
manja), “Will, punya kamu ini besar ya?! panjang lagi.. dan kayaknya
udah pengen maen nich.” Namun saya tidak memberi jawaban sebab selain
saya tidak tahu harus menjawab apa, saya merasa sedang terbang.
Dan saya pun tidak tahu pasti berapa
lama dia meraba-raba kemaluan saya dari atas celana dalam saya. Hingga
pada akhirnya dengan tiba-tiba kepalanya seperti terjatuh ke daerah
kemaluan saya dan dia menjilat-jilat celana dalam saya dengan tangan
kirinya yang tetap meraba-raba rambut kemaluan saya yang mungkin
sebagian keluar dari celana dalam.
Saya yakin bahwa celana dalam saya sudah
basah dengan air liurnya sebab rasanya sudah agak lama dia jilati.
Tidak berapa lama setelah saya berpikir seperti ini, dia membuka celana
dalam saya dan langsung menelan semua kemaluan saya. Wah, rasanya
benar-benar nikmat dan saya benar-benar harus membagi dua pikiran saya
antara kenikmatan yang sedang saya rasakan juga jalanan.
Karena saya pun terangsang dengan
kuluman tante Lusi, dengan berani saya memegang dadanya dan
meremas-remas kecil. Walaupun saya tidak melihat, namun saya dapat
membayangkan bagaimana rasanya apabila saya menghisapnya. Wah, sulit
dikatakan. Hingga pada saatnya, saya mengatakan pada Lusi bahwa saya
rasa saya akan klimaks, tapi buru-buru dia menghentikan kulumannya dan
mengambil posisi duduk normal.
Dan dia bilang bahwa dia pun sudah
terangsang dan ingin berhubungan seks. Dia mengajak saya menginap di
salah satu hotel. Sebelum mengiyakan ajakan Lusi, saya katakan bahwa
saya harus memberitahu sama orang rumah bahwa saya tidak pulang agar
mereka tidak perlu menunggu saya.
Setelah semuanya sudah beres, akhirnya
mobil yang kita tumpangi saya arahkan ke daerah Sunter, sebab saya tahu
bahwa di situ ada hotel, walaupun saya belum pernah menginap di situ.
Akhirnya kami tiba di hotel yang saya maksud dan saya beserta Lusi masuk
dan mengurus urusan-urusan di Front Office di hotel itu, dan setelah
semua selesai dengan biaya yang ditanggung Lusi, kami pun diantar ke
kamar yang sudah dipilih dengan Bellboy.
Setelah mengecek sana-sini dalam kamar,
akhirnya Bellboy meminta ijin untuk keluar setelah menghidupkan TV
dengan Channel MTV. Dan setelah terdengar suara pintu kamar kami ditutup
oleh Bellboy, saya dan Lusi dengan cepat saling berpelukan dan
berciuman sambil berdiri karena sama-sama sudah tidak bisa menahan
gairah seks masing-masing.
Lusi memang kelihatan sudah terangsang
berat dan pandai berciuman sebab saya dapat merasakan permainan lidahnya
yang sangat Hot. Sambil bermain lidah, tangan tante Lusi dan tangan
saya saling meraba-raba bagian terlarang satu sama lain.
Tangan kiri saya tetap memegang bagian
belakang kepala Lusi sedang tangan kanan saya mengelus-elus bagian
punggung Lusi yang terbuka dan mulus putih tanpa cacat, sesekali meraba
ke bagian tekukan bawah payudaranya. Sesekali tercium olehku aroma
parfum yang dia gunakan. Sedangkan tangan kiri Lusi menelusup ke bagian
belakang celana saya sedang tangan kanannya merabanya dari depan mulai
dari kemaluan saya hingga ke daerah pusar.
Lama-kelamaan, tangan saya membuka
sebagian baju bagian dadanya sehingga saya dapat memegang dengan jelas
bentuk payudaranya. Saya rasakan bahwa besar payudara Lusi terasa mantap
dengan posisi jemari saya seperti mau mengambil payudaranya itu. Saya
usap, elus dan mainkan puting susunya yang terasa makin lama makin agak
keras.
Dengan tetap sambil berciuman, memainkan
lidah dan saling menggigit bibir bawah atau atas satu sama lainnya.
Sedangkan tangan tante Lusi sedang berusaha membuka celana saya dengan
membuka reitsleting celana dan berusaha membuka ikat pinggang saya.
Setelah celana saya dapat dibuka oleh
Lusi, dengan sigap dia mengambil kemaluanku yang sudah tegang dari balik
celana dalamku lalu memaju-mundurkan tangannya sambil tetap menggenggam
kemaluanku.
Sambil meraba-raba dan tetap memainkan
puting susunya, tangan saya yang lain berusaha untuk membuka kancing
yang terletak di leher belakang Lusi. Dan akhirnya saya dapat membuka
kancing itu walaupun sedikit sulit sebab hanya dengan satu tangan.
Begitu baju terusannya dapat saya buka, dengan otomatis baju terusan itu
turun ke lantai sehingga payudara Lusi sekarang sudah tidak tertutupi
sesuatu apa pun.
Dengan turunnya baju terusannya ke
lantai, saya hentikan ciuman bibir dengan Lusi dan saya langsung mencium
bagian dada kiri dan kanan Lusi yang begitu ranum dan kencang
seakan-akan masih dalam pertumbuhan. Dalam setiap hisapanku atau
permainan lidahku pada puting susunya, Lusi mendesah kenikmatan, “Uuuh..
aaghh.. enakk..” dengan sesekali menambahkannya dengan nama saya dan
disertai denga nafas yang memburu. Sedangkan tangannya dengan bergantian
tetap memegang kemaluan saya dan mengocoknya.
Setelah saya agak puas dengan
payudaranya, jilatan, hisapan dan kecupan kecil saya mengarah ke bawah
dan makin ke bawah dengan tetap diiringi desahan tante Lusi yang saya
rasa sudah terangsang karena kenikmatan. Namun tangan saya tetap meraba
serta mengelus-elus payudaranya. Hingga pada akhirnya tangan Lusi
melepaskan kemaluan saya karena posisi kami yang tidak memungkinkan.
Jilatan dan kecupan kecil pada bagian
bawah dada Lusi makin liar dengan makin tidak dapat mengontrol diri saya
sendiri dengan gairah seks yang meluap-luap dan dengan sesekali saya
membuka mata saya dan melihat bagian tubuh Lusi yang putih bersih serta
mulus dan lembut. Saya pun dapat merasakan detak jantungnya yang makin
kencang.
Sambil tetap menjilati dan memberi
kecupan kecil, tangan saya dua-duanya meraba-raba bagian kemaluannya
yang masih tertutup oleh celana dalam yang dia gunakan. Setelah saya
meraba-raba dengan halus semua daerah kemaluannya serta bagian pantat
Lusi, baru saya ketahui bahwa dia mengenakan celana dalam dengan model
tali yang mana lekukan pada daerah lubang analnya berupa tali dan
melingkari pinggangnya pun berupa tali yang diikat pada bagian pinggang
kiri. Dan ini menambah gairah seks saya yang membludak.
Setelah dengan mudah dapat saya buka
celana dalamnya, jilatan juga kecupan kecil, saya lanjutkan pada daerah
kemaluannya hingga saya dapat merasakan bahwa saya sedang berada di
beberapa centimeter di atas liang kewanitaannya. Daerah yang ditumbuhi
oleh rambut-rambut yang tidak terlalu lebat dan terkesan dirawat rapi.
Dan saya tetap menikmati dengan makin mendesahnya tante Lusi dengan apa
yang saya lakukan pada tubuhnya.
Tangan saya pun mulai memainkan
kemaluannya yang basah, saya meraba kemaluannya dengan jari telunjuk
atau jari tengah saya dengan sesekali saya masukkan ke dalam kemaluan
Lusi. Sedang jempol saya, saya naik turunkan di daerah antara
kemaluannya dengan rambut kemaluannya.
Saya makin menikmati semua ini dengan
menyentuh ujung lidah saya pada kemaluannya bagian atas. Tercium pula
bau khas dari kemaluan Lusi. “Ughhh, Will.. sayaaang.. kamu pintar
sekali, sayang..” rintih Lusi ketika saya
menghisap-hisap klitorisnya dan sesekali
menjilatnya. “Teruuus.. terus.. sayang.. agh.. ahhhh..” rintihnya
sambil memegang kepala saya dengan kedua tangannya dan seakan-akan
menekan wajah saya ke dalam kemaluannya. Waktu itu, saya agak sulit
bernafas dengan posisi seperti ini, namun saya tetap menjilati dan
memainkan klitorisnya.
Agak lama saya memainkan klitorisnya dan
sesekali memasukkan satu atau dua jari saya ke dalam kemaluan
tante Lusi. Mulanya yang sudah basah, sekarang hingga kering dan
sekarang agak lembab dengan bercampurnya air liur saya.
Mungkin karena saya yang terlalu
menikmati yang sedang saya lakukan atau mungkin karena dia sudah
terangsang, dengan tiba-tiba dari dalam kemaluan Lusi menyembur cairan
hangat yang belum pernah saya temui sebelumnya.
Dengan menyemburnya cairan itu dari
dalam kemaluan Lusi, makin didorongnya kepala saya ke arah kemaluan Lusi
dan kali itu saya merasa sulit sekali bernafas namun kejadian itu tidak
berlangsung lama sebab setelah itu, Lusi melepaskan kepala saya
sehingga saya dapat bernafas kembali. Namun saya tetap menjilati dan
menghisapnya yang terasa agak lengket dan sedikit bau amis.
Tak berapa lama setelah cairan itu
menyembur, Lusi mengangkat kepala saya, yang maksudnya agar saya
berdiri. Saya pun berdiri dan wajah saya dekat dengan wajahnya. Dan Lusi
menciumi bibir saya dengan masih adanya sisa cairan yang menempel di
bibir dan lidah saya. Ganas sekali dia menciumi saya yang diiringi
dengan permainan lidah dan terengah-engah nafasnya.
Setelah puas berciuman, tante Lusi
menghentikannya dan mengatakan, “Will, sekarang gantian.. saya yang mau
menikmati tubuh kamu.” Sebelum aba-aba atau jawaban dari saya, Lusi
langsung membuka kaos saya dari bawah dan menelusupkan satu tangannya ke
atas ke bagian dada saya.
Sambil mengelus-elus dada saya, dia
bilang bahwa dada saya lapang, tidak seperti suaminya yang seolah-olah
mempunyai buah dada. Lusi pun mengatakan bahwa perut saya tidak gendut,
seperti peminum minuman keras.
Setelah saya membuka kaos saya sendiri,
dengan segera Lusi memulai kecupan kecil di daerah dada saya dan
sesekali menjilatinya, sedangkan tangannya menuju pada kemaluan saya dan
seperti semula, dia memaju-mundurkan kemaluan saya.
“Aaah.. aaah.. enak, Luc”, desahku
kenikmatan karena selain dijilati atau dikecup, kemaluanku pun
dikocok-kocok dengan pelan-pelan namun pasti. Seperti halnya yang saya
lakukan pada tubuh Lusi, Lusi pun menjilati, mengecup dan menghisap
semua bagian depan tubuhku dan makin lama makin ke bawah hingga akhirnya
pada kemaluanku.
Pada saat di kemaluanku, tante Lusi
langsung mengulumnya seakan-akan mau menelan semua kemaluanku yang
kira-kira panjangnya 16-18 centimeter. “Aaagghh.. aah.. eeenak, Luc!”
desahku agak keras tidak bisa menahan rasa nikmat yang saya rasakan
begitu Lusi memainkan lidahnya di bagian lubang kemaluanku. Tidak bisa
saya ungkapkan kenikmatannya dan saya benar-benar menikmati apa yang
saya rasakan.
Lama sekali Lusi menghisap, menjilat,
mengulum dan memainkan kemaluan saya, dia pun menjilati lubang anal
saya. Hingga pada akhirnya terlintas dalam pikiran saya untuk
menyelesaikan pemanasan ini dan memulai berhubungan seks.
Seperti halnya yang Lusi lakukan pada
saya dengan mengangkat kepala saya dari kemaluannya, begitu pula yang
saya lakukan untuk menghentikan kulumannya pada kemaluan saya. Saya
angkat kepalanya dan saya dekatkan wajahnya kepada saya lalu menciumnya
dengan kecupan-kecupan sesekali menciumnya dengan sedikit memainkan
lidah.
Saya pun menuntun tante Lusi untuk
tiduran di kasur dengan posisi telentang. Setelah saya beri ciuman dan
sedikit kecupan kecil pada bibirnya, saya memegang kemaluan saya dan
mengarahkan pada liang senggamanya. Kedua kakinya yang telah dibuka
olehnya membuat saya lebih mudah untuk memasukkan kemaluan saya.
Sambil memasukkan kemaluan saya, saya
lihat raut wajah tante Lusi. Dia tampak mengejamkan kedua matanya sambil
mendesah, “Ooohh.. eeemhhh..” lalu menahan nafas sejenak, sedangkan
kedua tangannya memegang kedua pantat saya lalu mencekeramnya agak
keras.
Sambil mengeluarmasukkan kemaluan saya
ke kemaluan Lusi, saya menekuk kedua kakinya dengan kedua tangan saya
sehingga telapak kaki dan tulang keringnya terangkat. “Uuughh.. esshhh..
aaahh.. eenak.. sayang..” desah Lusi sambil memejamkan matanya. Saya
pun mendesah kenikmatan dengan keluar masuknya kemaluan saya di dalam
kemaluan Lusi. “Aaahh.. eeessh.. Luss.. eenak..”
Kira-kira kami melakukan posisi itu
selama 5 menit, lalu saya angkat kedua kakinya sehingga menghimpit
kepalaku dan tetap mengeluarmasukkan kemaluanku. Dan saya tidak tahu
berapa lama saya dan tante Lusi melakukan posisi ini hingga akhirnya
Lusi menarik saya untuk mendekatkan kepala saya dengan kepalanya, lalu
dia mendekap punggung saya dengan erat bahkan saya merasa sangat keras.
Dan mendesah panjang, “Eeenghhh… eeesshhh.. eeenakk..”
Lalu Lusi menghentikan sebentar dan
mengeluarkan kemaluan saya dari kemaluannya. Ia lalu menungging dan saya
tahu maksudnya dan tanpa disuruh olehnya, saya mengarahkan kemaluan
saya untuk kembali menghujam kemaluan Lusi.
Sambil memegang kedua belah pantatnya
bagian atas, saya tetap mengeluarmasukkan kemaluan saya dan sesekali
saya melihat reaksi Lusi yang mengangkat sedikit kepalanya ke atas dan
sesekali mengibaskan rambutnya sambil mendesah-desah kenikmatan,
“Aaaghh… eeesshh.. terus sayang..”
Rasanya lama sekali melakukan hubungan
seks, hingga saya merasa sedikit kelelahan begitu juga Lusi, hingga saya
putuskan untuk mempercepat gerakanku. Makin kupercepat kemaluanku di
dalam kemaluan tante Lusi.
Dengan makin kupercepat gerakanku, makin
terdengar dengan jelas suara gesekan antara kemaluan saya dengan
kemaluannya yang telah diulasi oleh cairan dari kemaluan Lusi. Saya pun
sesekali memegang payudaranya dengan kadang meremasnya sebab saya rasa
payudaranya akan naik turun dan menggantung karena posisinya.
“Aaakhh.. enakk!” desah Lusi sedikit teriak.
“Luc.. saya mau keluar nich.. eeesshh..” desahku pada Lusi.
“Keluarin di dalem aja, Will.. eesshh..” jawabnya sambil mendesah.
“Luc.. saya mau keluar nich.. eeesshh..” desahku pada Lusi.
“Keluarin di dalem aja, Will.. eesshh..” jawabnya sambil mendesah.
Hingga akhirnya saya merasa bahwa saya
akan mencapai puncak, saya agak menunduk mengikuti posisi Lusi yang
menungging dan saya pegang kedua buah dadanya sambil sedikit meremas
keduanya. “Uuugghh.. aaaggh.. eeenak Luss” teriakku agak keras dengan
bersamaannya sperma saya yang keluar dan menyembur di dalam kemaluan
Lusi.
Setelah saya berdiam sejenak setelah
ejakulasi, saya keluarkan kemaluan saya dan saya tuntun tubuh tante Lusi
untuk membalik sehingga kami dapat berpelukan. Sambil saling memeluk,
Lusi mengatakan bahwa saya hebat dan dengan ijin saya, dia ingin
menceritakan ini pada temannya. Waktu itu, saya katakan bahwa tidak ada
masalah andai dia ingin menceritakan ini pada temannya sebab (waktu itu)
saya pikir, Lusi tidak akan mengenalkan temannya itu pada saya.
Kami pun hening sejenak sambil tetap
saling berpelukan dan tubuh masih dalam keadaan telanjang bulat dan saya
pun masih dapat mencium bau parfum yang Lusi gunakan. Dalam keheningan
itu, terdengar dengan samar-samar lagu When You Said Nothing At All yang
dibawakan oleh Ronan Keating dari pesawat TV yang ada.
Kami pun secara bersamaan tersentak dan
ingin melihat. Lalu kami saling meregangkan pelukan kami, dan Lusi
mengambil remote Tv yang berada di atas meja dekatnya lalu menambah
volume suaranya. Setelah itu, tante Lusi mengajak saya untuk berpelukan
lagi, saling mendekap lagi sambil menikmati lagu Ronan Keating tersebut.
Saya lihat jam tangan, jam menunjukan
pukul 12.45 dini hari. Dan kami pun tertidur hingga kita berdua bangun
bersama-sama sekitar jam 07.00 pagi, karena ada seberkas sinar matahari.
Setelah mandi, akhirnya kita sepakat
untuk keluar dari hotel tersebut dan Lusi mengantarkan saya pulang
hingga di depan rumah, setelah itu dia akan kembali ke rumahnya hanya
untuk mengganti pakaian dan diteruskan ke kantor.
Di dekat rumah, tante Lusi mengatakan
bahwa dia sangat puas dan ingin mengulang kembali apa yang terjadi tadi
malam dan dia mengeluarkan sejumlah uang yang saya kira cukup banyak
buat saya.
Katanya saat itu, “Will.. ini buat
kamu.. siapa tau bisa bantu-bantu kamu kalau kamu pengen beli sesuatu..”
namun belum selesai penjelasannya, saya jawab bahwa saya tidak mau
menerima uang sesen pun dari dia sebab apa-apa yang saya lakukan adalah
karena atas dasar suka sama suka dan saya pun mengatakan bahwa saya akan
merasa sangat terhina kalau dia tetap memaksa saya untuk menerima uang
itu.
Akhirnya dia mengalah dan kita terdiam
sejenak dan dia mengambil handphone-nya dan mengatakan bahwa itu adalah
pemberian dari dia bukan balasan atas yang saya lakukan, dia pun
menjelaskan agar dia dapat menghubungi saya. Setelah saya pikir-pikir
sambil dia tetap berharap agar saya menerima itu, akhirnya saya mau juga
karena saya pikir handphone ini tidak akan selamanya, saya dapat
mengembalikannya suatu saat nanti.
Setelah tiba di rumah, saya pun memohon
diri dan sempat memegang tangannya bahwa apa yang dia rasakan antara
saya dan dia, mungkin yang saya rasakan pada saat itu. Hari itu
tante Lusi menelepon saya dua kali lewat handphone-nya, yang pertama
mengatakan bahwa dia sudah tiba di rumah dan yang kedua adalah dia sudah
berada di kantor.
Sejak itu, tante Lusi tidak pernah
menghubungi saya lagi. Tadinya saya pikir bahwa dia sibuk, dan saya pun
sadar dengan posisi saya. Hingga akhirnya saya dihubungi seorang wanita
lewat handphone pemberian Lusi.
Wanita itu mengatakan bahwa Lusi pernah
cerita semuanya tentang hubungan saya dengan Lusi mulai dari mula hingga
akhir, dan wanita ini mengatakan bahwa dia ingin mengatakan sesuatu
pada saya dan ingin ketemu dengan saya.
Hingga pada akhirnya saya setuju untuk
bertemu di suatu Mall. Dalam pertemuan tersebut, wanita itu yang seumur
dengan tante Lusi yang mengaku sebagai temannya dan mengaku bernama
Julliet ini mengatakan bahwa ada pesan dari Lusi untuk mengatakan yang
sebenarnya pada saya bahwa Lusi telah bersuami dan sudah 1.5 tahun belum
dikarunia anak dan dikatakan bahwa suaminyalah yang tidak mampu
berproduksi sebab Lusi secara diam-diam sudah memeriksakan dirinya tanpa
sepengatahuan suaminya,
dan pesan tante Lusi yang terakhir
adalah dia menyampaikan permintaan maaf sebesar-besarnya untuk saya
sebab Lusi tidak ingin bertemu dengan saya lagi.
Posted By : www.tugupoker.net


Comments
Post a Comment