Agen Poker Terbaik - Beradu Ciuman Hot Seusai Ngesex dengan Cewek Seksi
Agen Poker Terbaik - Beradu Ciuman Hot Seusai Ngesex dengan Cewek Seksi - Nama saya Don, kini masih kuliah di salah satu perguruan tinggi di
Bandung. Cerita ngesex ini terjadi kira-kira setahun yang lalu. Setelah
menyelesaikan Ujian Akhir Semester, saya pulang ke Jakarta dengan KA.
Perjalanan berlangsung lancar, dan sesampainya di Stasiun, saya langsung
berjalan menuju halte bus di seberang stasiun untuk menunggu bus ke
arah rumah saya.
Agen Poker Terbaik - Di halte bus, saya melihat seorang cewek
SMA yang seksi, putih mulus dan cantik sekali serta mempunyai payudara
yang bisa membuat setiap laki-laki menelan ludah. Pokoknya boleh
dibilang, cewek seperti dia di kampus saya tidak bakal ketemu deh.
Maklum deh, di kampus saya mayoritas
mahasiswanya cowok, apalagi di jurusan saya. Tanpa berpikir panjang,
saya pun berkenalan dengan cewek itu. Namanya Anggie, dan karena bus
jurusan ke rumah saya sudah datang, saya pun langsung memberi alamat kos
saya di Bandung beserta nomer teleponnya.
Keesokan harinya saya bersama ibu dan
adik saya berlibur ke Singapore selama 4 hari. Kami menginap di sebuah
Hotel. Di Singapore, karena berbeda dalam hal selera berbelanja, saya
berjalan sendiri, sedangkan ibu dan adik saya berjalan berdua.
Liburan itu hanya saya isi dengan
berjalan keliling Singapore sendirian mulai dari Orchard sampai Bukit
Batok, semua daerah saya datangi. Setelah 4 hari kami balik ke Jakarta,
dan keesokan harinya saya langsung ke Bandung untuk persiapan berangkat
Kerja Praktek ke luar pulau.
Pada saat saya tiba di kos saya di
Bandung, saya mendapat surat kiriman dari Anggie, yang intinya
menanyakan kapan saya main ke Jakarta lagi. Keesokan harinya saya
langsung balik ke Jakarta lagi, meskipun ibu saya sampai bingung kenapa
nih anak bolak-balik Jakarta-Bandung. Malamnya saya menelepon Anggie dan
kami janjian ketemu di depan sekolahnya di kawasan Gambir.
Keesokan harinya kami pun bertemu sesuai
dengan janji kami. Langsung saja kami meluncur ke Blok M Plaza. Dalam
perjalanan itu, Anggie berulang kali meletakkan tangannya di paha kiri
saya. Saya pun langsung terangsang, meskipun saat itu saya berpura-pura
cuek saja.
Karena saat itu saya memakai jeans,
ereksi tersebut membuat saya agak kesakitan. “Ntar lagi dong, Nggie…,
sakit banget nih”. Anggie pun menghentikan rangsangannya sambil
tersenyum menertawakan sakit yang saya rasakan. Sampai di Blok M kami
pun berjalan keliling plaza sambil bergandengan tangan. Setelah sekitar 2
jam, kami kembali ke mobil.
Sesampainya di mobil, saya menyuruh
Anggie agar dia duduk di kursi belakang saja dengan alasan untuk
bercerita dulu. Sambil bercerita tiba-tiba Anggie meminta saya
memangkunya. Kesempatan ini tidak saya sia-siakan, langsung saja tangan
saya membelai rambutnya, meremas payudaranya, namun pada saat tangan
saya meremas kemaluannya, tiba-tiba Anggie berbalik dengan agresifnya
dan langsung saja tangan kanannya masuk ke dalam CD saya. Kontan saja
saya tak berdaya dibuatnya.
“Don, asyik nggak Don..?”, bisik Anggie sambil mencium bibir saya.
“Iya.., iya.., asal jangan ditarik keras-keras, Nggie..”, balas saya sambil mencium bibirnya. Anggie pun tertawa nakal.
“Iya.., iya.., asal jangan ditarik keras-keras, Nggie..”, balas saya sambil mencium bibirnya. Anggie pun tertawa nakal.
Lalu kedua tangannya membuka retsleting
jeans-ku serta CD-ku sehingga saya tinggal mengenakan T-Shirt saja.
Merasa terpojok, langsung saja saat itu juga saya “menggeledah” seragam
SMA Anggie, mulai dari pakaian dan BH-nya, namun saya masih ragu-ragu
untuk membuka roknya.
Tangan kami saling berebutan
meremas-remas “jantung pertahanan” lawan sedangkan lidah kami saling
berciuman dan menjilat-jilat lidah lawan. Tanpa terasa batang kemaluan
saya mulai mengembang tegak penuh rangsangan. Don.., jangan kasar
dong..!”, kata Anggie kepadaku.
Pada saat tanganku masuk ke CD-nya,
terasa mulai banyak cairan yang baunya baru pertama kali saya rasakan.
“Ehggg.., ehhggg.., Don.., saya ingin jilat anu kamu Don.., cepet
Don..!”. Tanpa berpikir panjang langsung saya arahkan batang kemaluan
saya ke mulut Anggie dan dia pun langsung menikmatinya meskipun agak
kewalahan juga.
“Nggie siap-siap Nggie.., gue udah mau keluar nih..”
“Ntar Don.., jangan dulu..”, kata Anggie sambil menutup matanya.
“Ntar Don.., jangan dulu..”, kata Anggie sambil menutup matanya.
Tapi saya sudah tak kuasa lagi menahan
nafsu ini. Langsung saja saya menggenjot batang kemaluan saya dengan
kencang sehingga mobil tempat kami “praktikum” bergoyang lumayan hebat.
Untung saja orang dalam mobil di samping sedang asyik berbelanja.
Pada saat itu tangan Anggie langsung
memeluk pantat saya, dan jari-jarinya sekali-kali meremas biji peler
saya. Saya pun terus menambah genjotan saya sampai optimum sehingga
Anggie terpaksa setengah menggigit senjata saya agar tidak lepas.
“Mmhhh.., mmhhh.., mhuuhhh..”,
seakan-akan Anggie menelan ludahnya sehinga saya merasa semakin
bergairah. Dan tak lama kemudian, “Crot.., ccrrottt.., crottt..” Sperma
saya keluar dan langsung ditelan Anggie sambil menjilat-jilat batang
kemaluan saya.
Kami pun terkulai lemas untuk beberapa
saat, karena melihat satpam Blok M Plaza berjalan ke arah kami, maka
kami segera memakai kembali pakaian kami masing-masing, meskipun dalam
hati kecil saya merasa belum puas karena belum sempat mengulum payudara
dan liang kenikmatan Anggie. Namun Anggie merasa puas sekali dengan
permainan yang baru kami lakukan. Kami pun meninggalkan Blok M Plaza
untuk mengantar Anggie ke arah rumahnya di kawasan Jakarta Timur.
Dalam perjalanan ke rumah Anggie, saya
melihat ada satu kompleks perumahan yang lumayan sepi. Langsung saja
saya membelokkan mobil saya ke arah kompleks itu, Anggie pun
kebingungan. Kami berhenti di bawah sebuar pohon yang rindang di daerah
yang sepi dari kompleks itu.
“Nggie.., gue masih ingin Nggie..”, bisik saya ke telinga Anggie.
Langsung saja saja cium bibir dan
pipinya, hingga pipinya kemerah-merahan akibat saya cupang. Kemudian
ciumanku turun ke leher dan akhirnya sampai juga di payudaranya.
“Toket loe oke punya Nggie..”, ujarku.
Anggie yang sedang mendesah berusaha tertawa ringan mendengar pujianku.
“Rudal kamu juga lumayan kok Don..!”, balas Anggie.
Saat itu kedua tangan Anggie hanya bisa
memeluk punggung saya karena tidak berdaya menahan ciuman dan bahkan
sesekali gigitan saya.
“Nggie.., loe nungging deh Nggie..”, ajak saya.
Anggie pun menurut saja. Dari belakang
saya arahkan batang kemaluan saya ke liang kenikmatannya sedangkan
tangan saya meremas kedua payudaranya dan kaki saya menjepit kakinya.
Tampak Anggie kegelian merasakan bulu-bulu kaki saya yang menjepit
kakinya yang mulus itu. Tangan Anggie pun tampak tidak mau kalah, dia
arahkan kedua tangannya ke punggung saya sehingga kami berdua menyatu
erat sekali.
“Oke Nggie.., udah siap say..?”, tanyaku mengingatkan Anggie yang masih mendesah.
“Mulai aja Don.., sapa takut..”, jawab Anggie penuh percaya diri.
“Mulai aja Don.., sapa takut..”, jawab Anggie penuh percaya diri.
Mulailah saya lakukan gesekan-gesekan
ringan yang membuat Anggie sesekali mendesah keras. Mobil pun kembali
mulai bergoyang hebat.
“Tahan yah Nggie.., pasti enak kok..”, rayu saya padanya.
“Iya Don.., saya tahan kok Don..”, sahutnya.
“Iya Don.., saya tahan kok Don..”, sahutnya.
Tanpa terasa keringat di punggung saya
terasa begitu panas sehingga mengganggu “praktikum” kami. Agar bisa
sambil berciuman, saya membalikkan kepala Anggie ke belakang sehingga
kami tetap bisa sambil berciuman dengan penuh nafsu birahi.
Saya sadar bahwa gaya ini merupakan gaya
egois saya karena semua onderdil saya dapat menikmati onderdil Anggie,
sedangkan Anggie hanya bisa ber-ciuman hot, itu pun kepalanya berbalik
arah. Sesekali agar Anggie tidak mendesah begitu keras, saya cubit
pahanya sehingga dia tersenyum ringan.
“Ayo Nggie.., lawan saya Nggie”, tantang saya sombong pada Anggie.
Anggie pun seakan-akan tak mau kalah,
payudaranya mulai mengeras dan liang kenikmatannya mulai mengeluarkan
cairan, namun ciumannya seakan-akan mulai mengalahkan ciuman saya. Saya
pun mulai kewalahan sekalipun posisi badan saya lebih menguntungkan.
“Oke Nggie.., mulai lagi yaa sayang..”, bisik saya.
“Mmhhh.., mmmhhh.., Don.., peluk aku Don..”, teriak Anggie seolah-olah ingin lebih merasakan kenikmatan.
“Mmhhh.., mmmhhh.., Don.., peluk aku Don..”, teriak Anggie seolah-olah ingin lebih merasakan kenikmatan.
Kami pun bercinta dengan gaya kucing di
dalam mobil. Genjotan yang saya lakukan semakin bertambah keras dan
kencang sehingga Anggie seakan-akan sudah tidak berdaya lagi. “Ahhh..,
ahhh.., ahhh.., auuhhh..”, terdengar sayup-sayup genjotan saya pada
liang kenikmatan Anggie. Dan saya pun mulai merasakan bahwa permainan
sudah mau berakhir.
“Don.., enak Don.., tambah lagi Don..,
lagi sayaang.., lagiii..!”, teriak Anggie lumayan keras. Dan akhirnya, ”
Crot.., croott.., crooot.., crooottt”, keluarlah cairan yang begitu
banyak sehingga permainan berakhir sambil kami tetap terus berciuman.
Kami pun tertidur lagi, dan karena sudah lumayan malam saya mengantar
Anggie pulang ke rumahnya.
Sampai di rumah Anggie kira-kira jam 11
malam. Saya tidak tahu apa yang dikatakan Anggie kalau orang tuanya
menanyakan dari mana saja. Pakaian seragam Anggie begitu kusut bahkan
ada beberapa tetes sperma saya yang mengenai rok SMA-nya.
Saya pun pulang ke rumah dan tiba di
rumah sekitar jam 11.45. Untung semuanya sudah tidur tinggal pembantu
yang membukakan pintu. Di dalam kamar tidur saya merenung, agak menyesal
tapi puas betul, pokoknya semua perasaan bercampur baur.
Keesokan harinya saya hanya menelepon
Anggie, menanyakan kabarnya. Saya berpamitan lewat telepon karena besok
harus balik ke Bandung dan selanjutnya berangkat Kerja Praktek. Anggie
menanyakan jam keberangkatan saya.
Keesokan harinya tepat saat berada di
lantai atas stasium Gambir saya kaget setengah mati, ternyata ada cewek
cantik berseragam SMA menunggu di pinggir kereta. Anggieee..! Kami pun
ber-ciuman hot di depan umum, kontan semua orang heran melihat gelagat
kami, kami lupa kalau ini sudah bukan di dalam mobil lagi.
Anggie pun mengantarkan saya meletakkan
tas saya di dalam kereta. Dan kami hendak kembali ke luar kereta untuk
sekedar ngobrol-ngobrol. Saat melewati toilet KA Kelas Eksekutif karena
melihat toilet kosong, otak saya langsung “berpikir efisien” lagi.
Segera tangan saya menyambar tangan putih Anggie sehingga kami berdua
masuk ke toilet yang sempit itu.
“Nggie.., loe masih mau ciuman hot nggak Nggie”, tanya saya.
“Boleh aja Don.., asal jangan kenceng-kenceng seperti kemarin dulu”, jawabnya.
“Boleh aja Don.., asal jangan kenceng-kenceng seperti kemarin dulu”, jawabnya.
Kami pun ber-ciuman hot di toilet itu
lama sekali dengan tangan saling memeluk mengingat keterbatasan waktu
untuk bermain lebih lama lagi.
Tiba-tiba ada yang mengetuk keras-keras pintu toilet sehingga kami berdua sangat panik.
“Don.., entar aja Don.., rapiin baju dulu!”, kata Anggie.
Kami pun saling merapikan baju kami,
dengan deg-degan kami keluar dari toilet. Langsung saja si pengetuk
pintu berteriak, “Busyet dah nih orang.., ke WC barengan..!”. Kami pun
panik sambil pura-pura tidak mendengar padahal banyak sekali orang yang
melihat kejadian itu.
Kereta pun berangkat ke Bandung. Kami
hanya bisa saling memandang saat kereta mulai bergerak seakan-akan masih
belum puas atas hasil kerja keras kami. Sesampainya di Bandung saya
masih sering melamun di kamar kos bahkan di kampus, seandainya saat ini
Anggie menari bugil di depan saya. Kami pun hanya saling telepon,
terlebih lagi pada saat saya kerja praktek di luar pulau.
Sekembalinya kerja praktek, saya pernah
hendak membeli koran di dekat tempat parkir motor di kampus. Tanpa
sengaja ada anak remaja cewek yang membeli sebuah majalah remaja. Saya
mencuri-curi melihat isi majalah tersebut saat cewek itu sedang membaca
majalah tersebut. Ya Tuhan.., ternyata Anggie menjadi profil di halaman
muka majalah itu. Malamnya saya interlokal ke Jakarta menanyakan hal
tersebut.
Ternyata hal tersebut sudah berlangsung
lama, Anggie memang seorang model di majalah tersebut bahkan pernah
membintangi iklan di televisi (sekarang tidak lagi). Saya saat itu
merasa bingung sendiri, mengapa baru tahu sekarang, maklumlah meskipun
di kos-kosan saya ada televisi namun kalau ada iklan saya tidak terlalu
memperhatikannya.
Sekarang ini sudah setahun kejadian itu
berlangsung. Kalau saya sedang di Jakarta, seringkali saya menelepon
Anggie dan menjemputnya, namun kami tidak melakukan seperti yang
sudah-sudah. Kami “hanya” beradu ciuman hot di tempat parkir Mall.
Yang kalah dalam adu ciuman hot harus
mentraktir di sebuah restoran. Skor sampai dengan saat saya mengetik
tulisan ini di situs tugupoker.net masih 3-2 untuk keunggulan Anggie.
Posted By : www.tugupoker.net


Comments
Post a Comment